BERITA TERKINI
Aksi Hari Buruh di Berbagai Negara Soroti Dampak Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Biaya Hidup

Aksi Hari Buruh di Berbagai Negara Soroti Dampak Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Biaya Hidup

Para pekerja di berbagai negara turun ke jalan pada peringatan Hari Buruh untuk menyuarakan solidaritas serta menuntut perlindungan hak-hak pekerja. Aksi-aksi tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap dampak konflik di Timur Tengah dan kenaikan biaya energi yang dinilai dapat menekan perekonomian global.

Konfederasi Serikat Buruh Eropa, yang mewakili 93 organisasi di 41 negara, menyatakan pekerja tidak akan menerima konsekuensi dari konflik di Timur Tengah. Organisasi itu memperingatkan bahwa lapangan kerja dan standar hidup berada dalam ancaman.

Di Asia, pemimpin serikat buruh SENTRO di Filipina menekankan bahwa situasi domestik berkaitan erat dengan krisis global. Kelompok buruh di negara itu juga memperingatkan kenaikan tajam harga bahan bakar dapat memicu tuntutan upah yang lebih tinggi serta dukungan ekonomi. Di Indonesia, federasi serikat buruh nasional menyebut banyak pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan dengan pendapatan mereka saat ini.

Di Amerika Selatan, protes besar dilaporkan terjadi di Chili, Bolivia, dan Venezuela. Sementara itu di Kuba, pemerintah menggelar pertemuan untuk memprotes apa yang mereka anggap sebagai tekanan ekonomi dari Amerika Serikat, sembari mempersiapkan demonstrasi besar-besaran di Havana pada 1 Mei.

Di Eropa, peringatan 1 Mei yang di banyak negara berstatus hari libur nasional turut mendorong tingginya partisipasi massa. Di Istanbul, Turki, pihak berwenang memblokir jalan-jalan di sekitar Lapangan Taksim untuk memfasilitasi protes. Di Paris, Prancis, serikat pekerja menyerukan demonstrasi dengan slogan “roti, perdamaian, dan kebebasan.”

Kekhawatiran terhadap resesi ekonomi global juga membayangi rangkaian aksi, bersamaan dengan sorotan pada ketimpangan pendapatan. Konfederasi Serikat Buruh Internasional menyatakan banyak pemimpin bisnis tingkat tinggi menerima gaji dan bonus yang melampaui 100 juta dolar AS pada tahun lalu, sementara para pekerja menghadapi risiko kehilangan pekerjaan.

Sejumlah organisasi hak-hak buruh mendorong negara-negara mengadopsi kebijakan pajak yang lebih adil bagi kelompok kaya serta mengatur gaji para CEO.

Di Jalur Gaza, para pekerja Palestina membatalkan kegiatan perayaan karena krisis ekonomi yang parah. Menurut Federasi Serikat Buruh Palestina, sekitar 550.000 pekerja di Gaza dan Tepi Barat saat ini tidak memiliki penghasilan.

Di Amerika Serikat—tempat gerakan hari kerja delapan jam bermula pada abad ke-19—tanggal 1 Mei bukan hari libur nasional resmi. Meski demikian, kelompok aktivis May Day Strong menyerukan ratusan protes di berbagai wilayah, dengan pesan yang menekankan pembelaan terhadap hak-hak pekerja.