PARIS — Aksi demonstrasi May Day atau Hari Buruh berlangsung di berbagai negara pada Jumat, 1 Mei 2026. Ribuan pekerja turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan kenaikan upah serta perbaikan kondisi kerja.
Gelombang protes ini dipicu meningkatnya biaya energi yang dikaitkan dengan konflik Iran, yang turut menekan daya beli masyarakat. Di banyak negara, Hari Buruh diperingati sebagai hari libur nasional dan diwarnai aksi massa di sejumlah kota besar.
Sejumlah demonstrasi diperkirakan berpotensi memicu ketegangan seiring tekanan ekonomi yang dirasakan pekerja. Konfederasi Serikat Buruh Eropa menilai pekerja tidak seharusnya menanggung dampak dari konflik geopolitik.
Di Amerika Serikat, aktivis juga merencanakan unjuk rasa untuk menentang kebijakan Presiden Donald Trump. Kenaikan harga energi menjadi salah satu isu utama dalam berbagai aksi.
Di Filipina, aksi diperkirakan berlangsung besar dengan tuntutan bantuan ekonomi menyusul lonjakan harga bahan bakar. Sementara di Pakistan, meski Hari Buruh merupakan hari libur nasional, banyak pekerja harian tetap bekerja karena kebutuhan ekonomi.
Inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak disebut semakin memperburuk kondisi pekerja. Aksi demonstrasi juga terjadi di Seoul, Korea Selatan, dengan serikat pekerja menyoroti isu ketimpangan sosial dan perlindungan tenaga kerja.
Di Prancis, peringatan Hari Buruh tahun ini memiliki makna khusus karena adanya perdebatan terkait aturan kerja pada hari tersebut. Secara global, May Day kembali menjadi momentum bagi pekerja untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut keadilan sosial.