BERITA TERKINI
Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi RI 2026 jadi 4,7%, Indikator OECD Masih di Atas 100

Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi RI 2026 jadi 4,7%, Indikator OECD Masih di Atas 100

Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dari 5,0% menjadi 4,7%. Revisi ini dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, yang belum menunjukkan tanda mereda.

Di sisi lain, sinyal dari indikator ekonomi yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan gambaran yang berbeda. Berdasarkan data Composite Leading Indicator (CLI) per Maret 2026, Indonesia tercatat berada di level 100,52. Dalam interpretasi CLI, posisi di atas ambang 100 menandakan fundamental ekonomi masih berada di atas tren jangka panjangnya.

Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai kondisi tersebut menjadi ujian penting bagi ketahanan ekonomi nasional. Ia menyebut perbedaan penilaian antar lembaga internasional mencerminkan dinamika dan tingginya pengaruh ketidakpastian global terhadap persepsi atas fundamental ekonomi Indonesia.

Dalam laporan NEXT Indonesia Center bertajuk Sinyal Daya Tahan Ekonomi Indonesia, juga disorot perbedaan proyeksi antara Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB). ADB memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat tumbuh 5,2%, lebih optimistis dibanding proyeksi Bank Dunia.

Menurut Herry, gap proyeksi 4,7% hingga 5,2% menunjukkan penilaian terhadap daya tahan ekonomi Indonesia masih sangat dipengaruhi situasi global. Meski demikian, ia menilai posisi CLI Indonesia yang masih di atas 100 menjadi sinyal bahwa momentum pertumbuhan tetap berada di wilayah positif.

Namun, Herry mengingatkan adanya penurunan tipis CLI dari 100,59 pada Februari menjadi 100,52 pada Maret 2026. Penurunan tersebut, meski masih dalam zona ekspansif, dinilai sebagai peringatan dini atas potensi moderasi pada mesin pertumbuhan utama, yakni konsumsi rumah tangga.

Ia menekankan struktur ekonomi Indonesia masih bertumpu besar pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang 53,9% terhadap PDB. Moderasi pada awal 2026 disebut dapat mencerminkan kekhawatiran konsumen terhadap potensi inflasi dan kenaikan harga energi global.

NEXT Indonesia Center juga merujuk analisis historis 32 tahun terakhir yang menyebut CLI memiliki akurasi tinggi dalam membaca titik balik siklus ekonomi Indonesia, termasuk pada krisis 1998 dan 2008. Karena itu, Herry mendorong pemerintah memperkuat kontribusi investasi dan ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi.

Saat ini, porsi investasi dan ekspor masing-masing berada pada 28,8% dan 22,8% dari PDB. Herry menilai penguatan dua komponen tersebut diperlukan agar ketahanan ekonomi lebih seimbang, terutama di tengah tekanan eksternal yang meningkat.