Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memberi tekanan terhadap sektor industri di Jawa Tengah. Kenaikan harga minyak dunia dan melonjaknya ongkos logistik global dinilai berpotensi menambah beban biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.
Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah menilai situasi global yang tidak menentu menjadi tantangan serius bagi perekonomian daerah, mengingat aktivitas ekspor-impor Jawa Tengah cukup tinggi. Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan gejolak global akibat konflik tersebut berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional maupun regional.
“Challenge yang dihadapi kurang lebih sama, yakni global turmoil. Dampaknya cukup signifikan terhadap ekonomi kita ke Indonesia dan juga Semarang karena kita punya eksposur besar dari sisi ekspor-impornya,” ujar Noor dalam jumpa pers persiapan CJIBF dan UMKM Grande 2026 di Kantor BI Jateng, Rabu (29/4/2026).
Noor menjelaskan, harga minyak dunia sempat melonjak hingga menyentuh 150 dolar AS per barel setelah konflik, sebelum kemudian turun dan stabil di kisaran 100–110 dolar AS per barel. Kondisi ini disebut otomatis meningkatkan biaya impor minyak yang berdampak pada berbagai sektor industri.
Selain harga energi, gangguan jalur distribusi internasional turut mendorong kenaikan ongkos logistik. Risiko pengiriman yang meningkat membuat pelaku usaha menanggung biaya angkutan (freight) dan asuransi yang lebih tinggi.
“Jarak tempuh bisa lebih jauh jika harus menghindari jalur konflik seperti Selat Hormuz. Dampaknya, biaya logistik semakin tinggi dan waktu pengiriman bahan baku menjadi terlambat hingga tujuh hari,” kata Noor.
Berdasarkan survei terbaru BI, dampak tersebut mulai terasa pada sejumlah sektor industri strategis di Jawa Tengah, antara lain Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), alas kaki, furnitur, serta industri plastik. Sektor-sektor ini dilaporkan mengalami peningkatan biaya bahan baku yang cukup signifikan.
Kenaikan harga bahan baku dan keterlambatan pasokan memicu efek berantai terhadap proses produksi. Biaya operasional industri ikut naik dan berpotensi memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.
“Biaya produksi meningkat, yang kemudian berdampak langsung pada kenaikan harga barang di tingkat konsumen,” tambahnya.
Meski pemerintah disebut telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, BI menilai tantangan terbesar tetap pada ketidakpastian kapan konflik global tersebut akan mereda. Noor mengingatkan, jika situasi berlangsung lebih panjang, dampaknya terhadap ekonomi Jawa Tengah berisiko semakin serius.