JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%.
Perry mengatakan BI terus memperkuat bauran kebijakan yang mencakup moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan tersebut disinergikan dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Rabu (22/4), Perry menilai pertumbuhan ekonomi perlu terus didorong di tengah kondisi dan prospek global yang memburuk.
Sejumlah indikator terbaru, menurut Perry, menunjukkan ekonomi pada triwulan I-2026 mengalami peningkatan, terutama ditopang kuatnya permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga tumbuh seiring meningkatnya kepercayaan pelaku ekonomi, pendapatan yang tetap terjaga, serta lonjakan permintaan selama perayaan Idulfitri 1447 H.
Belanja pemerintah juga disebut meningkat, sejalan dengan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR), kenaikan belanja sosial, serta berbagai insentif termasuk transfer ke daerah. Sementara itu, investasi—khususnya di sektor bangunan—dinilai tetap kuat, didorong percepatan berbagai program prioritas pemerintah.
Ke depan, Perry menekankan perlunya penguatan kebijakan pemerintah dan BI di tengah melemahnya prospek ekonomi global. Berbagai langkah kebijakan diarahkan untuk mengurangi dampak perlambatan ekonomi dunia sekaligus mendorong sumber pertumbuhan dari permintaan domestik.
Perry menambahkan program-program prioritas pemerintah tetap difokuskan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan permintaan dalam negeri, serta penguatan ketahanan fiskal.
Dalam kesempatan yang sama, Perry menyampaikan BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 4,75% dalam RDG periode April 2026.