Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyiapkan dua langkah mitigasi untuk menahan potensi lonjakan harga obat di tengah dampak konflik geopolitik global, termasuk perang di Timur Tengah. Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, strategi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan pasokan obat tetap tersedia.
Langkah pertama yang disiapkan BPOM adalah relaksasi regulasi terkait kemasan obat. Taruna menjelaskan, selama ini perusahaan farmasi harus melalui serangkaian uji ketat, seperti uji stabilitas dan standardisasi, ketika hendak mengubah kemasan obat. Ke depan, BPOM berencana memberi kelonggaran agar industri dapat mengganti kemasan, dengan syarat keamanan dan kestabilan produk tetap terjamin.
“Yang pertama, yang berhubungan dengan kemasan Badan POM akan membuat aturan baru yang dulunya misalnya, kan semua kemasan itu biasanya sebelum ganti kemasan harus ada aturan di mana dia lakukan uji standarisasi, uji stabilitas kemasan dan sebagainya,” kata Taruna di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan, BPOM akan menyiapkan keputusan yang memungkinkan industri mengganti kemasan selama kepastian keamanan dan kestabilan tetap terjaga. Dengan kebijakan itu, industri farmasi berpeluang menggunakan bahan kemasan yang lebih fleksibel dan terjangkau, misalnya mengganti kemasan berbahan plastik menjadi botol, atau mengubah bentuk kemasan strip menjadi kertas maupun karton, tanpa mengurangi kualitas obat.
Taruna menilai langkah ini penting karena biaya kemasan memberi kontribusi besar terhadap harga obat. “Sekitar 30 persen kemasan itu mempengaruhi harga obat. Jadi kalau kita bisa mempermudah di sini tentu itu bisa mengurangi,” ujarnya.
Strategi kedua adalah memperluas sekaligus mendiversifikasi sumber impor bahan baku obat. Taruna menyebut pasokan utama selama ini berasal dari negara-negara seperti Cina, India, serta kawasan Eropa. “Selama ini kan impor kita terbanyak dari Cina, India terus dari Eropa itu dari Belanda terus Switzerland atau Jenewa kemudian sebagian dari Amerika,” kata dia.
Menurut Taruna, status BPOM yang telah diakui secara internasional akan dimanfaatkan untuk membuka akses ke negara lain sebagai pemasok alternatif. “Kita akan gunakan label baru kita ini untuk bargain ke negara-negara substituen impor,” ujarnya. Ia juga menyebut BPOM tengah menjajaki peluang bahan baku dari Rusia yang selama ini masih minim masuk ke Indonesia.
Taruna menyatakan dua strategi itu diharapkan dapat membantu mengendalikan harga obat setidaknya hingga akhir tahun, dengan catatan kondisi pasokan dalam beberapa bulan ke depan masih relatif aman. “Jadi dua strategi itu akan saya yakin bisa mengontrol harga obat kita at least sampai akhir tahun, karena sampai 6 bulan ke depan kita masih aman,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa dalam situasi krisis, ketersediaan obat menjadi prioritas utama dibanding harga. “Kadang persoalan harga memang itu sangat penting tapi ada yang lebih penting lagi ketersediaan. Karena kita tahu obat itu beda dengan makanan,” ujarnya. “Kalau makanan bisa diganti dengan makanan lain, tapi kalau kita tidak tersedia obat, walaupun harganya murah, tetapi tidak tersedia gimana,” tambahnya.
Taruna juga menyoroti tekanan harga yang sulit dihindari karena struktur industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada impor dan bahan berbasis petrokimia. Ia menjelaskan, komponen kemasan obat menjadi salah satu faktor yang terdampak gejolak global karena lebih dari separuh material kemasan terkait petrokimia, seperti plastik.
Selain kemasan, sebagian bahan baku obat juga berasal dari turunan petrokimia. Taruna menyebut sekitar 30 persen obat kimia yang beredar merupakan turunan petrokimia. Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan impor bahan baku farmasi yang masih sangat tinggi, bahkan disebut lebih dari 90 persen, termasuk untuk produk biosimilar.
Walau demikian, BPOM memperkirakan ketersediaan obat masih aman dalam jangka pendek. “Selama ini kita masih aman… bisa sampai 6 bulan ke depan masih aman. Ya, tapi kan kalau ini perang berlanjut terus akan berpengaruh,” kata Taruna.