Harga obat berpotensi mengalami tekanan kenaikan di tengah konflik global yang berlangsung, termasuk perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Situasi geopolitik tersebut dinilai dapat memicu gangguan pasokan bahan baku, mendorong kenaikan biaya produksi, hingga meningkatkan ongkos distribusi obat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan bahwa konflik geopolitik dapat berdampak pada sektor kesehatan, termasuk harga obat. Salah satu pemicunya adalah terganggunya ekspor dan distribusi bahan baku, yang berujung pada naiknya biaya produksi. Tekanan pada sektor energi dan transportasi juga berpotensi meningkatkan biaya distribusi, sehingga harga obat dapat ikut terdorong naik di pasar.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BPOM mendorong optimalisasi kapasitas produksi obat dalam negeri sebagai langkah mitigasi utama. Upaya ini dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan, terutama terkait produksi obat generik. Dalam situasi krisis, pemerintah juga mempertimbangkan pembatasan sementara produksi obat branded generic agar industri farmasi dapat memprioritaskan pemenuhan kebutuhan obat esensial masyarakat.
Selain mendorong produksi, BPOM memperkuat pengawasan berbasis teknologi. Pengawasan dilakukan secara hibrida melalui evaluasi, sertifikasi, dan inspeksi bersama berbagai lembaga terkait. BPOM juga menyiapkan pendampingan bagi industri farmasi dalam masa darurat, termasuk percepatan perubahan bahan baku aktif serta fleksibilitas standar produksi.
Di sisi lain, pemerintah membuka jalur impor cepat melalui mekanisme Special Access Scheme (SAS) untuk mempercepat ketersediaan obat apabila terjadi gangguan pasokan. Taruna menyampaikan harapan agar langkah ini dapat mencegah kelangkaan obat di dalam negeri sekaligus menjaga stabilitas harga.
Di tengah tekanan global, penyesuaian harga obat mulai menjadi pertimbangan, terutama untuk obat yang menggunakan bahan berbasis petrokimia. Kenaikan harga bahan baku global disebut menjadi faktor yang sulit dihindari, meski pemerintah berupaya agar kenaikan tidak terjadi secara signifikan.
Konflik Iran dengan AS dan Israel juga dinilai berdampak pada perekonomian global secara lebih luas. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta Anton Agus Setyawan menyebut kenaikan harga minyak sebagai salah satu dampak utama. Menurutnya, kenaikan harga energi dapat menekan biaya produksi di berbagai sektor. “Dampaknya akan negatif ke ekonomi global, tidak hanya di Indonesia saja,” ujar Anton.
BPOM menegaskan pentingnya menjaga ketahanan sistem kesehatan nasional di tengah situasi global, termasuk melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah dan industri. Sejumlah langkah seperti optimalisasi produksi, penguatan pengawasan, hingga percepatan impor diposisikan sebagai kunci untuk menjaga ketersediaan obat bagi masyarakat dan mencegah lonjakan harga yang signifikan.