BERITA TERKINI
BRICS Kian Agresif Menambah Cadangan Emas, Pangsa Global Naik hingga 17,4%

BRICS Kian Agresif Menambah Cadangan Emas, Pangsa Global Naik hingga 17,4%

Jakarta: Negara-negara yang tergabung dalam BRICS tercatat semakin agresif meningkatkan cadangan emas dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini dinilai bukan semata strategi investasi, melainkan bagian dari pergeseran dalam sistem keuangan global.

BRICS yang awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, kini bertambah dengan masuknya sejumlah negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, hingga Indonesia pada 2025. Dengan total 10 anggota penuh, blok ini disebut mewakili sekitar 40% produk domestik bruto (PDB) global berdasarkan paritas daya beli dan hampir separuh populasi dunia. Skala tersebut membuat kebijakan cadangan negara-negara BRICS dinilai berpotensi berdampak struktural terhadap sistem keuangan global.

Data menunjukkan total cadangan emas negara-negara BRICS+ kini telah melampaui 6.000 ton. Tiongkok, Rusia, dan India menjadi pemegang terbesar dalam kelompok tersebut. Rusia tercatat memimpin dengan 2.336 ton, disusul Tiongkok 2.298 ton, dan India 880 ton. Brasil juga kembali melakukan pembelian pada September 2025—pembelian pertamanya sejak 2021—dengan menambah 16 ton sehingga total cadangannya menjadi 145,1 ton.

Dalam periode 2020–2024, bank sentral BRICS+ menyumbang lebih dari 50% dari seluruh pembelian emas bank sentral di dunia. Porsi mereka dalam cadangan emas global meningkat dari 11,2% pada 2019 menjadi 17,4% saat ini, merujuk data World Gold Council.

Secara global, bank sentral mencatat pembelian emas tahunan yang melampaui 1.000 ton pada 2022, 2023, dan 2024, yang disebut sebagai rentetan pembelian terpanjang dalam sejarah modern. Pada 2025, pembelian emas bank sentral dunia mencapai 863 ton. Negara-negara BRICS dinilai menjadi pendorong penting tren tersebut.

Sejumlah faktor disebut mendorong peningkatan pembelian emas. Pertama, tren penurunan dominasi dolar AS dalam cadangan global, yang turun dari sekitar 70% pada akhir 1990-an menjadi kisaran 50–60% saat ini. Kedua, meningkatnya risiko geopolitik dan sanksi internasional yang mendorong negara-negara mencari aset cadangan yang tidak dapat dibekukan. Ketiga, kekhawatiran terhadap meningkatnya utang pemerintah Amerika Serikat yang telah menembus puluhan triliun dolar. Keempat, upaya sejumlah negara membangun sistem pembayaran alternatif di luar dominasi dolar.

Pembekuan cadangan Rusia pada 2022 disebut menjadi momentum yang mempercepat perubahan strategi bank sentral di berbagai negara. Sejak periode tersebut, pembelian emas bank sentral global meningkat tajam dan bertahan di level tinggi, mencerminkan kehati-hatian dalam pengelolaan cadangan devisa di tengah ketidakpastian global.

Meski demikian, dolar AS masih menjadi mata uang cadangan utama dunia. Namun, sejumlah indikator menunjukkan penurunan dominasi secara bertahap, seiring meningkatnya diversifikasi cadangan ke emas. Disebutkan pula bahwa 73% bank sentral di dunia memperkirakan pangsa dolar dalam cadangan global akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan.

Secara keseluruhan, tren peningkatan pembelian emas oleh negara-negara BRICS mencerminkan perubahan arah manajemen cadangan global. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, emas kembali dipandang sebagai aset yang relatif netral dan tahan krisis.