BERITA TERKINI
Dana Korporasi Mengendap di Bank, Pertumbuhan DPK Melambat pada Februari 2026

Dana Korporasi Mengendap di Bank, Pertumbuhan DPK Melambat pada Februari 2026

Industri perbankan nasional mencatat tren penumpukan dana korporasi di rekening bank pada awal 2026. Kondisi ini dipandang mencerminkan sikap dunia usaha yang masih menahan ekspansi besar, seiring pertimbangan terhadap situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pasti.

Data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan nasional mencapai 9,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2026. Meski tetap tumbuh, laju ini melambat dibanding Januari 2026 yang tercatat 10,8% yoy.

Di tengah perlambatan tersebut, segmen korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan simpanan perbankan, sementara dana dari nasabah perorangan disebut cenderung stagnan. Arus kas perusahaan terlihat lebih banyak mengendap di bank ketimbang dialokasikan untuk kebutuhan operasional maupun investasi baru.

Komposisi simpanan korporasi juga menunjukkan dominasi instrumen giro dan tabungan. Pada Februari 2026, giro korporasi tumbuh 19,8% yoy dan tabungan korporasi naik 19,4% yoy. Sementara itu, simpanan berjangka korporasi meningkat 10,1% yoy.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada bank-bank besar, tetapi juga dirasakan perbankan menengah. Sejumlah manajemen bank mengakui strategi pendanaan saat ini banyak bertumpu pada segmen wholesale atau korporasi besar.

Penumpukan dana korporasi dinilai berkaitan dengan kalkulasi pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi terkini. Ketidakpastian global disebut menjadi faktor yang mendorong perusahaan lebih berhati-hati dalam mengelola likuiditas, termasuk dengan menjaga cadangan kas tetap tinggi sebagai bantalan menghadapi potensi guncangan pasar.

Beberapa faktor yang disebut mendorong penahanan ekspansi antara lain ketidakpastian ekonomi global, kehati-hatian dalam belanja modal (capital expenditure), penantian terhadap arah kebijakan suku bunga yang lebih stabil, serta fokus menjaga likuiditas internal di tengah fluktuasi permintaan.

Pelaku pasar juga menaruh perhatian pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dinilai akan memberi sinyal arah kebijakan moneter ke depan. Jika prospek ekonomi nasional dinilai membaik, perputaran dana korporasi diperkirakan berpotensi meningkat pada paruh kedua 2026.

Sejumlah prasyarat yang dinantikan untuk mendorong kembali aktivitas bisnis meliputi evaluasi kebijakan suku bunga, inflasi yang lebih terkendali, peningkatan daya beli masyarakat, serta pemanfaatan kembali dana korporasi untuk ekspansi dan investasi.

Dengan kepastian kebijakan, dana yang saat ini mengendap di perbankan diharapkan dapat lebih cepat tersalurkan menjadi kredit produktif, yang pada akhirnya berpotensi memperkuat aktivitas sektor riil dan menopang pertumbuhan ekonomi sepanjang sisa 2026.