BERITA TERKINI
Diplomasi Indonesia di Kawasan Indo-Pasifik: Menjaga Kerja Sama yang Inklusif

Diplomasi Indonesia di Kawasan Indo-Pasifik: Menjaga Kerja Sama yang Inklusif

Negara-negara ASEAN terus berupaya untuk mencapai pandangan bersama mengenai konsep kawasan Indo-Pasifik. Indonesia menegaskan pentingnya kerja sama yang bersifat inklusif dan tidak didasarkan pada persepsi ancaman.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI, Siswo Pramono, menjelaskan bahwa sentralitas ASEAN dan mekanisme yang dimilikinya, khususnya KTT Asia Timur (East Asia Summit/EAS), menjadi pijakan utama dalam membangun kerja sama Indo-Pasifik.

Menurut Siswo, konsep Indonesia menonjolkan inklusivitas yang sejalan dengan karakter ASEAN yang "merangkul". ASEAN sendiri merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari 10 negara dengan sistem politik beragam, namun berhasil dipersatukan oleh kepentingan bersama yang kuat. Kepentingan bersama inilah yang menjadi faktor utama keberlangsungan dan kesuksesan ASEAN selama lebih dari lima dekade.

Perbedaan pandangan Indonesia dengan negara lain juga ditekankan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, yang menegaskan bahwa konsep Indonesia dibangun dengan semangat kerja sama, bukan dilatarbelakangi oleh persepsi ancaman.

Indonesia memilih EAS sebagai salah satu platform dialog untuk membahas isu Indo-Pasifik dengan beberapa pertimbangan. Forum ini dipimpin langsung oleh para pemimpin negara dan dibentuk untuk membahas perkembangan strategis di kawasan. Selain itu, keterkaitan ekonomi antarnegara anggota EAS sudah sangat tinggi, serta adanya komitmen kerja sama yang tertuang dalam Declaration of the East Asian Summit on the Principles for Mutually Beneficial Relations yang ditandatangani di Bali pada 2011.

Dalam konteks kerja sama Indo-Pasifik, Indonesia menitikberatkan pada bidang maritim, konektivitas, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Namun demikian, hal tersebut tidak menutup peluang bagi kerja sama di bidang lain.

EAS dibentuk oleh ASEAN untuk menggalang kerja sama dengan kekuatan besar dan menengah di kawasan, antara lain Amerika Serikat, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, dan Selandia Baru. Dengan demikian, kawasan Indo-Pasifik yang memiliki prospek besar di masa depan diharapkan dapat terjaga stabilitas politiknya dan menghindari proyeksi kekuatan yang dapat merongrong keamanan kawasan.

Pandangan Indonesia mengenai kawasan Indo-Pasifik sebelumnya telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada KTT ASEAN ke-32 pada April lalu serta pada KTT Asia Timur (EAS) ke-13 pada November 2018. Diskursus mengenai Indo-Pasifik di Indonesia sendiri telah berkembang sejak 2005 dan semakin menguat terutama sejak 2013 hingga saat ini.