Raden Ajeng Kartini dikenal memperjuangkan perubahan bukan melalui kekuatan fisik, melainkan lewat tulisan. Dalam gelar wicara bertajuk Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi di Museum R.A Kartini, Jepara, Jawa Tengah, Selasa, 21 April 2026, disampaikan bahwa Kartini aktif melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di berbagai belahan dunia.
Surat-surat Kartini kemudian dihimpun dan diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang hingga kini disebut sebagai rujukan penting untuk memahami pemikirannya. Melalui korespondensi itu, Kartini menunjukkan bahwa perjuangan dapat dilakukan dengan kata-kata sebagai alat untuk menyampaikan gagasan dan mendorong perubahan.
Dalam pemaparan tersebut juga diungkapkan bahwa diplomasi budaya Kartini tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi mencakup beragam aspek kehidupan. Disebutkan, setelah membaca ulang 179 surat Kartini, ditemukan empat bentuk diplomasi yang dijalankannya.
Pertama, diplomasi intelektual melalui pertukaran gagasan. Kartini kerap berdiskusi mengenai isu kolonialisme, feodalisme, serta kesetaraan pendidikan bagi kaum pribumi, khususnya perempuan. Ia juga tidak mengagungkan budaya Eropa, melainkan melakukan perbandingan untuk mendorong kesetaraan.
Kedua, diplomasi pendidikan yang menekankan pentingnya akses belajar bagi perempuan. Melalui gagasan-gagasannya, Kartini menempatkan pendidikan sebagai kunci untuk membuka kesempatan dan memperluas peran perempuan.
Selain itu, Kartini juga disebut menjalankan diplomasi seni dan budaya. Ia aktif mempromosikan seni ukir Jepara dan batik kepada kolega internasionalnya. Dalam kesempatan itu, Kartini bahkan disebut sebagai duta promosi pertama Jepara karena mengenalkan seni ukir Jepara secara aktif.
Melalui rangkaian surat dan gagasan tersebut, Kartini dinilai membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan fisik. Kata-kata, menurut pemaparan dalam gelar wicara itu, dapat menjadi alat perjuangan yang efektif untuk membangun citra bangsa dan memperjuangkan kesetaraan.