Dolar Amerika Serikat menguat tipis pada Rabu, 23 April 2026, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketegangan di Selat Hormuz setelah serangan Iran terhadap kapal. Di sisi lain, perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran memberi sedikit kelegaan bagi pelaku pasar.
Indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama, naik 0,2% menjadi 98,59, menurut laporan Investing.com pada Kamis, 23 April 2026.
Penguatan terbaru ini terjadi setelah dolar sempat melonjak pada Maret ketika investor berbondong-bondong masuk ke mata uang tersebut. Saat itu, pasar menilai ekspor energi AS yang kuat dapat membantu meredam dampak guncangan energi akibat gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz.
Namun, dolar kini kembali mendekati level sebelum perang. Sejumlah analis menilai puncak gejolak geopolitik yang dipicu perang Iran kemungkinan telah berlalu.
Pada Maret, dolar juga terdorong oleh ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk lebih lama guna menghadapi guncangan inflasi dari kenaikan harga minyak. Dolar AS umumnya cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Ahli strategi FX dan suku bunga global Macquarie, Thierry Wizman, menilai bahwa dalam tiga pekan terakhir terjadi pergeseran dari perang kinetik ke perang ekonomi yang turut dikaitkan dengan persepsi membaiknya prospek ekonomi global. Meski demikian, ia mengingatkan sikap pasar bisa saja belum sepenuhnya mencerminkan risiko jika perang ekonomi berlanjut dan ekonomi global mengalami “non-linearitas”, termasuk potensi penjatahan serta bentuk fragmentasi lainnya.
Wizman juga menyoroti bahwa penguatan nilai tukar sejak akhir Maret turut dipengaruhi bank sentral di luar AS—seperti ECB, BoE, RBA, dan BoJ—yang mengadopsi retorika lebih agresif dibanding Federal Reserve. Menurutnya, apabila ekonomi global benar-benar memasuki fase “non-linearitas” dengan dampak terbesar pada negara yang memiliki eksposur terkonsentrasi, krisis tersebut berpotensi membuat dolar tetap stabil atau bahkan kembali menguat.
Dalam skenario fragmentasi akibat kekurangan pasokan, Wizman menilai Australia dan dolar Australia (AUD) berisiko paling awal terdampak karena minimnya stok penyangga energi. Ia juga menyebut euro, poundsterling, dan yen turut berisiko, demikian pula won Korea Selatan, dolar Taiwan, serta peso Cile.
Perhatian pasar terhadap dolar juga meningkat sehari setelah sidang Kongres Kevin Warsh, kandidat pilihan Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai ketua Federal Reserve. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat, Warsh menyatakan tidak pernah berjanji kepada Trump untuk memangkas suku bunga dan menekankan independensi bank sentral dari politik. Ia juga mengatakan akan melakukan perombakan kebijakan besar di The Fed jika dikonfirmasi.
Namun, jadwal persetujuan Senat belum jelas. Sejumlah legislator Republik terkemuka mengisyaratkan kemungkinan menunda konfirmasi hingga pemerintahan Trump menghentikan penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung terhadap Powell. Trump sebelumnya berulang kali menuntut agar The Fed memangkas suku bunga dan menyatakan kepada CNBC pada Selasa—sebelum sidang Warsh—bahwa ia akan kecewa jika hal itu tidak terjadi. Penyelidikan kriminal terhadap Powell dipandang banyak pihak sebagai upaya menekan bank sentral.
Di pasar mata uang utama lainnya, euro melemah. Pasangan EUR/USD turun 0,3% menjadi 1,1708. Data Direktorat Jenderal Urusan Ekonomi dan Keuangan menunjukkan kepercayaan konsumen zona euro merosot ke -20,6 poin, melanjutkan penurunan tajam sejak awal perang Iran.
Sementara itu, poundsterling relatif stabil. GBP/USD nyaris tidak berubah di 1,3506. Data inflasi konsumen Inggris untuk Maret menunjukkan lonjakan harga minyak memberi dampak besar pada inflasi utama, tetapi pengaruhnya lebih terbatas pada inflasi inti.
Kepala ekonom Inggris Deutsche Bank, Sanjay Raja, mengatakan inflasi Inggris sesuai dengan perkiraan banyak pihak. CPI utama naik menjadi 3,3% secara tahunan, sementara CPI inti melambat menjadi 3,2% secara tahunan. Ia menambahkan harga energi meningkat signifikan, dengan harga bensin naik hampir 8% secara bulanan dan harga minyak pemanas naik hingga 90% secara bulanan. Meski demikian, Raja menilai arah ke depan masih belum jelas karena dampak tidak langsung tetap menjadi kekhawatiran.