BERITA TERKINI
Ekonomi Halal Global Diproyeksi Tembus Rp51.532 Triliun pada 2026, Indonesia Bidik Jadi Hub Asia Pasifik

Ekonomi Halal Global Diproyeksi Tembus Rp51.532 Triliun pada 2026, Indonesia Bidik Jadi Hub Asia Pasifik

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan ekonomi halal global diprediksi bernilai lebih dari US$3 triliun pada 2026, atau setara Rp51.532 triliun dengan asumsi kurs Rp17.180 per dolar AS. Indonesia, menurut dia, membidik posisi sebagai pusat (hub) ekonomi syariah dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam acara Halal Bihalal Forum Bisnis Negara Islam Asia Pacific (B57+) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/4). Ia menekankan bahwa ekonomi halal kini berkembang menjadi industri besar yang mencakup berbagai sektor, mulai dari makanan halal, keuangan syariah, kosmetik, hingga gaya hidup halal.

“Kita tidak bisa lagi melihat ekonomi halal hanya dari perspektif ibadah. Ini adalah industri raksasa,” kata Nasaruddin. Ia berharap Indonesia dapat mengambil peran strategis dalam peta ekonomi syariah global, termasuk menjadi hub ekonomi halal untuk kawasan Asia Pasifik. “Semoga bisa menjadikan Indonesia sebagai jangkar ekonomi syariah di kawasan Asia Pasifik, bahkan di dalam dunia internasional,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Chairman B57+ Asia Pacific Arsjad Rasjid menyebut proyeksi ekonomi halal global diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, bahkan disebut dapat menembus US$9 triliun atau sekitar Rp154 ribu triliun pada 2030.

Arsjad menilai proyeksi tersebut menunjukkan ekonomi halal telah melampaui kebutuhan berbasis agama dan berkembang menjadi kekuatan ekonomi global lintas sektor dan negara. “Ekonomi halal global diproyeksikan mencapai US$9 triliun pada tahun 2030, melampaui batas agama, batas budaya, dan batas geografi,” kata Arsjad.

Ia menambahkan, potensi tersebut perlu diimbangi dengan kolaborasi lintas negara yang terstruktur agar dapat berdampak nyata bagi perekonomian. “Potensi sebesar ini baru akan bermakna jika kita mampu membangun kolaborasi yang terorganisir, terpercaya, dan terhubung,” ujarnya.

Menurut Arsjad, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi penghubung ekonomi halal global, terutama melalui inisiatif B57+ yang menjembatani kerja sama antarnegara. “Melalui B57+, Indonesia mengambil peran sebagai jembatan kerja sama ekonomi halal di kawasan Asia Pasifik,” katanya.

Arsjad juga menekankan bahwa ekonomi halal kini tidak lagi terbatas pada aspek keagamaan, melainkan telah menjadi standar global yang bertumpu pada kualitas dan integritas. “Halal adalah lifestyle yang berakar pada kepercayaan, kualitas, dan integritas yang kini menjadi standar yang relevan di berbagai sektor,” ujarnya.