Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi banyak negara, ditandai antara lain oleh suku bunga tinggi di negara maju, konflik geopolitik yang belum mereda, tekanan harga energi, serta perlambatan ekonomi dunia. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan mengenai seberapa kuat Indonesia menghadapi guncangan eksternal menjadi relevan, terutama ketika masyarakat juga merasakan kenaikan biaya hidup.
Sejumlah indikator makro menunjukkan ekonomi Indonesia masih berada pada posisi yang relatif stabil. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11% secara tahunan. Pada triwulan IV-2025, pertumbuhan tercatat 5,39% year-on-year. Di tengah kondisi global yang lesu, capaian tersebut mengindikasikan konsumsi domestik tetap berjalan dan aktivitas usaha belum kehilangan momentum secara drastis.
Dari sisi harga, inflasi tahunan pada Desember 2025 tercatat 2,61% dan masih berada dalam kisaran target nasional. Kemampuan menjaga inflasi tetap rendah dinilai penting karena memberi kepastian bagi dunia usaha sekaligus rasa aman bagi rumah tangga, terutama ketika banyak negara menghadapi lonjakan harga yang lebih sulit dikendalikan.
Ketahanan eksternal juga tercermin dari posisi cadangan devisa. Pada awal 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD152,1 miliar. Angka ini menjadi bantalan bagi stabilitas nilai tukar rupiah, pembiayaan impor, serta kemampuan menghadapi tekanan dari luar ketika pasar global mudah bergejolak.
Dari sisi sentimen, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimistis meskipun menurun dari 125,2 pada Februari 2026 menjadi 122,9 pada Maret 2026. Penurunan ini dinilai lebih mencerminkan kehati-hatian masyarakat di tengah situasi global yang tidak stabil, bukan tanda pembalikan suasana yang ekstrem.
Proyeksi lembaga internasional juga masih menempatkan Indonesia pada jalur pertumbuhan yang relatif solid. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 di kisaran 5,1%, sementara Bank Dunia memperkirakan sekitar 5,2%.
Meski demikian, stabilitas di tingkat makro tidak serta-merta menghapus tekanan yang dirasakan rumah tangga. Biaya hidup masih menjadi perhatian, terutama pada sektor pangan dan perumahan. Dalam pengalaman sehari-hari, masyarakat menilai kondisi ekonomi dari harga di pasar, cicilan yang ditanggung, biaya tempat tinggal, hingga kemampuan menjaga konsumsi tanpa mengurangi kebutuhan pokok.
Karena itu, keluhan publik mengenai ekonomi yang terasa berat tidak dapat semata-mata dijawab dengan statistik. Hal tersebut dipandang sebagai bagian dari realitas ekonomi yang perlu direspons, termasuk pertanyaan mengenai pemerataan manfaat pertumbuhan: siapa yang paling menikmati pertumbuhan dan siapa yang tertinggal.
Di sisi kebijakan jangka panjang, pemerintah mendorong agenda seperti hilirisasi industri, pengembangan ekonomi digital, dan percepatan transisi energi sebagai upaya memperkuat daya tahan ekonomi. Hilirisasi diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, ekonomi digital membuka ruang efisiensi dan pasar baru, sementara transisi energi ditujukan untuk mengurangi kerentanan terhadap guncangan energi global.
Tantangan yang disorot adalah memastikan agenda transformasi tersebut memiliki jembatan yang jelas dengan kebutuhan jangka pendek masyarakat. Kekhawatiran terkait harga beras, biaya kontrakan, maupun biaya pendidikan tidak otomatis mereda hanya dengan narasi pembangunan jangka panjang, sehingga kebijakan stabilisasi dan perlindungan daya beli tetap menjadi pekerjaan rumah.
Ke depan, sejumlah hal dinilai perlu diperkuat: memastikan inflasi rendah benar-benar terasa sebagai perlindungan daya beli, mendorong pertumbuhan yang lebih merata, serta menjaga keyakinan konsumen agar tidak berubah menjadi optimisme yang rapuh. Di tengah situasi global yang penuh tekanan, indikator makro menunjukkan Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di atas 5%, inflasi tetap rendah, dan cadangan devisa tetap kuat, namun tantangan utama tetap pada penerjemahan capaian tersebut menjadi rasa aman ekonomi yang lebih nyata bagi rumah tangga.