Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap stabil pada 2026. Stabilitas ini dinilai menjadi modal untuk mendorong transformasi menuju pertumbuhan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Laporan Business Outlook 2026 dari Indonesian Business Council (IBC) menyebut Indonesia masih mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan eksternal, seperti ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global. Dalam laporan tersebut, IBC memperkirakan Indonesia akan terus tumbuh di kisaran sekitar 5 persen.
IBC menilai ketahanan ini ditopang fundamental makroekonomi yang relatif kuat, termasuk inflasi yang terkendali serta ketahanan sektor keuangan. Kondisi tersebut disebut mencerminkan hasil kebijakan ekonomi yang disiplin dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut IBC, posisi Indonesia saat ini tidak hanya bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga membuka peluang untuk naik ke fase pertumbuhan yang lebih tinggi. Laporan itu menyebut Indonesia berada pada titik belok yang menentukan, sehingga momentum yang ada dipandang sebagai kesempatan strategis untuk melakukan lompatan transformasi ekonomi.
Transformasi tersebut, menurut IBC, dapat didorong melalui peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas investasi, dan penguatan daya saing industri. IBC juga menekankan stabilitas yang telah dicapai bisa menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat, dengan keterkaitan antara stabilitas makroekonomi, ketahanan keuangan, dan reformasi struktural.
Ke depan, IBC menilai peluang percepatan pertumbuhan dapat ditempuh lewat implementasi reformasi struktural dan penguatan tiga pilar utama, yakni kepastian regulasi (certainty), peningkatan kapasitas sumber daya manusia (capability), serta penguatan akses pembiayaan (capital).
Sejalan dengan itu, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemerintah tengah menggeser arah pembangunan ekonomi dari sekadar menjaga stabilitas menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian IMF-World Bank Spring Meeting pada 13–17 April di Washington DC, Amerika Serikat.
Purbaya menyebut transformasi ekonomi didorong melalui tiga pilar utama, yakni investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas. Pemerintah, menurut dia, mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, serta meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi agar pertumbuhan ke depan tidak hanya stabil, tetapi juga lebih produktif, berkelanjutan, terdiversifikasi, dan tangguh.
Ia menambahkan kinerja ekonomi Indonesia dinilai relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya, ditopang pertumbuhan yang stabil, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang tetap terjaga. Selain itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disebut masih berperan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat.
Dalam forum IMFC Restricted Breakfast Meeting, Purbaya juga menyampaikan optimisme ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5,4 hingga 6 persen pada 2026 meski di tengah ketidakpastian global. Optimisme itu didukung sejumlah indikator, antara lain pertumbuhan ekonomi 2025 yang tercatat 5,11 persen.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD 1,27 miliar pada Februari 2026, melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut. Kinerja tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang kuat, inflasi yang terkendali, serta kebijakan hilirisasi yang terus berjalan.
Pemerintah juga menyatakan akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara untuk mendorong investasi di luar APBN.
Meski optimistis, pemerintah tetap mewaspadai risiko global, terutama ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi dunia. Untuk mengantisipasi dampaknya, pemerintah menyiapkan bantalan fiskal guna meredam gejolak harga dan menjaga stabilitas bahan bakar bersubsidi, dengan tujuan melindungi daya beli masyarakat.
Di saat yang sama, pemerintah mendorong efisiensi belanja negara dan mempercepat transformasi struktural jangka panjang, termasuk melalui penguatan program hilirisasi. Dengan strategi tersebut, Indonesia diharapkan dapat menjaga stabilitas sekaligus menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.