BERITA TERKINI
Eropa Peringatkan ASEAN Soal Minyak Rusia, Sejumlah Negara Asia Tenggara Tetap Buka Kerja Sama Energi

Eropa Peringatkan ASEAN Soal Minyak Rusia, Sejumlah Negara Asia Tenggara Tetap Buka Kerja Sama Energi

Kekhawatiran Eropa terhadap perubahan peta energi global menguat setelah sejumlah negara Asia Tenggara membuka ruang kerja sama yang lebih besar dengan Rusia di tengah krisis pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari The Guardian, Uni Eropa memperingatkan negara-negara Asia Tenggara agar tidak beralih ke minyak Rusia untuk menutup kekurangan energi. Peringatan itu disampaikan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, usai bertemu para menteri luar negeri ASEAN di Brunei pada Selasa (28/4/2026).

Kallas meminta negara-negara di kawasan melihat “gambaran besar” dan menilai pembelian minyak dari Rusia berisiko memperpanjang konflik di Ukraina karena dinilai membantu Moskow membiayai perang. Namun, di lapangan, seruan tersebut tidak serta-merta diikuti. Sejumlah negara Asia Tenggara yang selama ini bergantung pada energi dan pupuk dari Timur Tengah justru mulai menjajaki, bahkan meneken, kerja sama dengan Rusia.

Indonesia menjadi salah satu contoh yang disorot. Pemerintah pekan lalu mengumumkan rencana impor hingga 150 juta barel minyak mentah Rusia, setelah Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.

Di kawasan yang sama, Filipina—sekutu dekat Amerika Serikat—dilaporkan menerima pengiriman pertama minyak mentah Rusia dalam lima tahun terakhir pada Maret. Thailand disebut tengah bernegosiasi untuk membeli pupuk dari Rusia, sementara Vietnam mempercepat implementasi kesepakatan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang ditandatangani sebelum perang.

Bagi Rusia, perkembangan ini dinilai menguntungkan. Kenaikan harga energi global serta pelonggaran sementara sanksi yang memungkinkan pembelian minyak Rusia di laut disebut menghasilkan keuntungan miliaran dolar dan memperkuat narasi bahwa upaya Barat mengisolasi Moskow tidak berhasil. Dinamika ini juga memunculkan pertanyaan apakah konflik di Timur Tengah membuka peluang bagi Rusia untuk memperdalam pengaruhnya di Asia Tenggara.

Sejumlah survei menunjukkan citra Rusia di kawasan relatif positif dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 disebut tidak terlalu memengaruhi opini publik. Survei The Economist pada 2024 mencatat lebih dari 50% responden di Indonesia dan Vietnam ingin Rusia memenangkan perang. Sementara survei Pew Research Center tahun 2025 menyebut 64% warga Indonesia memiliki pandangan positif terhadap Rusia, dibandingkan 48% terhadap Amerika Serikat.

Peneliti ISEAS–Yusof Ishak Institute, Ian Storey, menilai daya tarik Rusia di kawasan antara lain berasal dari persepsi terhadap Vladimir Putin. “Putin dipandang sebagai sosok kuat yang berdiri melawan Barat, dan pembela nilai-nilai tradisional. Citra macho itu cukup diterima di banyak negara di kawasan ini,” ujarnya.

Storey menambahkan Rusia memiliki hubungan historis dengan negara seperti Vietnam dan Laos, serta dipersepsikan relatif ramah terhadap dunia Muslim karena dukungannya terhadap Palestina.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kemampuan Rusia memperluas pengaruhnya tetap terbatas. Dibandingkan Amerika Serikat dan China, Rusia dinilai tidak memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang sebanding. Ketergantungan Rusia terhadap China juga dapat menjadi pertimbangan bagi negara-negara Asia Tenggara yang memiliki sengketa maritim dengan Beijing.

Di sisi lain, keputusan Amerika Serikat melonggarkan sanksi terhadap pengiriman minyak Rusia sejak Maret turut memengaruhi situasi. Kebijakan tersebut, yang diperpanjang selama 30 hari pada pertengahan April setelah tekanan dari negara-negara Asia seperti Filipina dan India, membuka ruang bagi negara-negara untuk tetap membeli minyak Rusia. Langkah Washington berikutnya dipandang akan menentukan apakah tren ini berlanjut.

Salah satu sektor yang disebut berpotensi menjadi pintu masuk Rusia adalah energi nuklir. Storey menilai krisis mendorong negara-negara meninjau ulang strategi energi. “Krisis ini membuat negara-negara menilai kembali hubungan mereka dan melakukan penyesuaian. Mereka akan melihat isu seperti kedaulatan energi, diversifikasi, dan energi terbarukan,” katanya.

Rusia, sebagai pemain utama industri tenaga nuklir global, disebut telah menandatangani kontrak dengan Myanmar dan Vietnam, meski persaingan di sektor tersebut tetap ketat. Storey mengatakan Rusia mempromosikan diri sebagai mitra yang andal dan stabil bagi Asia Tenggara, terutama dalam ketahanan pangan dan energi.

Bagi Indonesia, kerja sama energi dengan Rusia juga dinilai memiliki dimensi politik. Profesor Leszek Buszynski dari pusat studi strategi dan pertahanan Australian National University menilai langkah itu mencerminkan kebijakan non-blok Jakarta. “Indonesia ingin mendapatkan pengakuan status dari Moskow dan mengirim sinyal kepada dunia Barat dan Amerika Serikat bahwa mereka tidak akan mengikuti arahan mereka,” ujarnya.

Di sisi lain, Rusia melihat nilai strategis dari posisi Indonesia di forum internasional seperti PBB, G20, dan BRICS, di mana Jakarta disebut kerap mendukung narasi bahwa perang di Ukraina merupakan “masalah dunia Barat”.

Keeratan hubungan Rusia dan ASEAN dijadwalkan kembali terlihat melalui KTT peringatan 35 tahun kemitraan yang akan digelar di Kazan pada Juni mendatang. Meski belum tentu menghasilkan kesepakatan besar, pertemuan itu dinilai penting secara simbolik.