BERITA TERKINI
Euforia Pembukaan Selat Hormuz Dinilai Menyesatkan, Pasar Dihadapkan Risiko Salah Baca Konflik Iran

Euforia Pembukaan Selat Hormuz Dinilai Menyesatkan, Pasar Dihadapkan Risiko Salah Baca Konflik Iran

JAKARTA—Pasar keuangan global bergerak volatil di tengah perkembangan perang Iran, di saat sejumlah analis menilai investor keliru membaca arah konflik dan dampaknya terhadap stabilitas energi dunia, terutama terkait Selat Hormuz. Optimisme pasar disebut berisiko menyesatkan karena kondisi di lapangan dinilai masih sangat tidak stabil dan mudah berubah.

Sentimen positif sempat menguat setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz pada Jumat (18/4/2026). Kabar tersebut memicu reli di pasar saham global. Dalam sepekan, indeks S&P 500 tercatat naik 4,5%, sementara Nasdaq Composite melonjak 7,2% dan mencatatkan 13 hari kenaikan beruntun, rekor yang terakhir terjadi pada 1992.

Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Pada awal pekan ini, pasar kembali melemah setelah lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan kembali terhenti. Perkembangan tersebut mencerminkan rapuhnya situasi gencatan senjata yang disebut akan berakhir dalam waktu dekat.

Matt Gertken, kepala strategi geopolitik di BCA Research, menilai pasar terlalu menyederhanakan dinamika konflik dengan berasumsi Presiden AS Donald Trump masih sepenuhnya mengendalikan situasi. Menurutnya, asumsi itu keliru. Ia mengatakan pasar seolah menganggap Trump dapat menaikkan atau menurunkan tensi konflik dengan mudah, padahal situasinya berbeda karena Iran telah diserang dan memiliki ambang toleransi yang lebih tinggi.

Patrick O’Donnell, kepala strategi investasi di Orbis Investments, juga menilai pasar terlalu optimistis dengan pendekatan “setengah gelas penuh”. Ia mengingatkan adanya ketidakpastian mendasar, terutama terkait apakah Selat Hormuz benar-benar akan dibuka kembali secara berkelanjutan.

Selat Hormuz merupakan jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan berulang di kawasan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekonomi global dan pasar keuangan.

Deutsche Bank turut mengingatkan investor agar tidak terjebak optimisme semu. Kepala riset makro Deutsche Bank, Jim Reid, membandingkan situasi saat ini dengan awal perang Rusia-Ukraina pada 2022, ketika pasar sempat reli lebih dari 10% karena harapan penyelesaian cepat, tetapi kemudian berbalik tajam. Pada periode tersebut, indeks S&P 500 akhirnya turun sekitar 25% dari puncaknya dan mencatat penurunan tahunan 19%, yang disebut sebagai yang terburuk sejak krisis keuangan 2008. Reid menilai episode itu menjadi peringatan yang jelas.

Dengan gencatan senjata Iran-AS yang disebut akan berakhir pada Selasa (22/4/2026), para analis menilai risiko kesalahan membaca pasar semakin besar. Ketidakpastian geopolitik dan dinamika militer di Selat Hormuz membuat arah pasar dinilai sangat bergantung pada perkembangan konflik dalam waktu yang singkat.