Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan fundamental perekonomian Indonesia masih kuat untuk menghadapi tekanan dan dampak geopolitik di Timur Tengah. Keyakinan tersebut didasarkan pada sejumlah indikator makroekonomi, mulai dari inflasi yang terkendali hingga ketahanan eksternal yang dinilai memadai.
Perry menjelaskan, inflasi Indonesia masih berada dalam sasaran BI, yakni di kisaran 2,5±1 persen. Di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi disebut masih berada di atas 5 persen, dengan stabilitas nilai tukar rupiah yang dinilai tetap terjaga.
Dari sisi intermediasi perbankan, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,49 persen pada Maret 2026. Sementara itu, neraca pembayaran Indonesia disebut masih baik, tercermin dari defisit transaksi berjalan yang rendah serta cadangan devisa yang tinggi.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar. Menurut Perry, posisi tersebut dipandang cukup untuk mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah gejolak global.
“Jadi secara keseluruhan kondisi fundamental kita baik dan kuat dalam menghadapi kondisi geopolitik ini,” kata Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu, 22 April 2026.
Perry menambahkan, BI bersama pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, terus memperkuat koordinasi untuk memastikan stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga dan berkelanjutan. Koordinasi tersebut memperhitungkan dampak perang di Timur Tengah, termasuk pergerakan harga minyak, penguatan dolar AS, tingginya yield US Treasury, serta dinamika arus modal.
Ia juga menyampaikan dukungan BI terhadap langkah-langkah kebijakan pemerintah yang diumumkan pada Maret 2026, termasuk delapan butir transformasi budaya kerja. Perry menilai langkah tersebut dapat memperkuat stabilitas ekonomi dan menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam arah kebijakan, Perry menyebut BI akan terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, kebijakan moneter akan lebih difokuskan pada upaya menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi moneter, BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta inflasi tetap pada sasaran 2,5±1 persen. Upaya stabilisasi dilakukan melalui peningkatan intervensi di pasar, baik lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, BI juga memperkuat kebijakan stabilisasi dengan meningkatkan efektivitas struktur suku bunga instrumen operasi moneter dan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Perry mengatakan, dalam sebulan terakhir BI menaikkan instrumen tersebut sehingga menarik aliran masuk portofolio asing ke SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN), yang pada gilirannya mendukung stabilitas rupiah dan ketahanan eksternal.
Di sisi likuiditas, kebijakan moneter juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan uang primer (M0) tetap pada level dua digit guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan. Per Maret 2026, pertumbuhan M0 tercatat 11,8 persen secara tahunan (yoy). Perry mengatakan BI akan berupaya menjaga pertumbuhan M0 tetap di atas 10 persen dan dapat mencapai 12 persen agar likuiditas di pasar uang dan perbankan tetap memadai.