Surakarta—Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si., menyoroti dampak luas konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Hal itu disampaikan dalam Seminar & Rapat Anggota I 2026 yang digelar di Gedung Induk Siti Walidah UMS, Rabu (22/4/2026).
Forum tersebut diselenggarakan oleh Perkumpulan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Komisariat Daerah (ADPI KOMDA) V Jawa Tengah & DIY. Dalam pemaparannya, Bambang menegaskan konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada aspek politik, tetapi juga memunculkan konsekuensi kemanusiaan dan ekonomi.
Ia menyebut dampak terbesar perang adalah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar di wilayah Gaza, Iran, dan Lebanon, serta meningkatnya jumlah masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat hancurnya infrastruktur publik. Menurutnya, mayoritas korban merupakan masyarakat sipil. Secara ekonomi, dampak terberat dirasakan negara-negara yang terlibat langsung, meskipun efek rambatannya tetap dapat dirasakan negara lain, termasuk Indonesia.
Bambang juga mengulas potensi dampak makroekonomi yang perlu diantisipasi Indonesia, terutama terkait inflasi. Ia menyampaikan inflasi yang masih dalam batas terkendali tidak serta-merta memicu krisis ekonomi. Namun, ia mengingatkan risiko krisis dapat muncul apabila inflasi meningkat cepat dan tidak terkendali, terutama bila disertai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta tekanan likuiditas akibat jatuh tempo utang pemerintah.
Dari sisi sektor dana pensiun, Bambang menilai gejolak ekonomi global dapat menjadi kerentanan tersendiri. Ia menyoroti risiko inflasi yang dapat menggerus nilai riil dana pensiun. Menurutnya, jika inflasi mencapai 20 persen, nilai riil dana pensiun dalam rupiah juga berpotensi turun hingga 20 persen, sehingga menjadi ancaman bagi keberlanjutan dana.
Selain inflasi, ia menekankan risiko pasar, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga yang dapat memengaruhi nilai obligasi lama yang telah dimiliki pengelola dana pensiun.
Untuk mitigasi, Bambang menekankan pentingnya diversifikasi investasi. Ia mengingatkan prinsip dasar pengelolaan aset agar tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen atau satu mata uang. Ia menyarankan diversifikasi ke berbagai bentuk, seperti rupiah, mata uang asing, emas, properti, hingga saham-saham unggulan (blue chip), menyesuaikan karakteristik masing-masing lembaga.
Di akhir pemaparan, Bambang menegaskan dana pensiun pada dasarnya merupakan lembaga investasi yang perlu dikelola secara dinamis dan adaptif terhadap perkembangan global. Ia mendorong pengelola dana pensiun agar tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga aktif melakukan analisis rutin terhadap kondisi politik dan ekonomi untuk menghasilkan keputusan investasi yang tepat dan berkelanjutan.