BERITA TERKINI
Harga Minyak Naik Sekitar 5%, Saham Global Terkoreksi di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Harga Minyak Naik Sekitar 5%, Saham Global Terkoreksi di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Harga minyak melonjak dan pasar saham global melemah pada awal pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi tidak bertahan. Ketegangan di Selat Hormuz turut menjadi sorotan, mengingat jalur tersebut merupakan rute penting pengiriman energi.

Pada Senin (20/4/2026) pukul 18.30 WIB, harga minyak mentah acuan untuk kontrak pengiriman Juni 2026 naik sekitar 5% menjadi US$ 94,92 per barel.

Di pasar saham, indeks saham dunia MSCI terakhir turun sekitar 0,26%. Di Eropa, indeks STOXX 600 melemah 1,1%, sementara kontrak berjangka S&P 500 turun 0,54%. Pergerakan ini terjadi setelah pasar saham Asia mencatat kenaikan meski risiko geopolitik meningkat.

Kekhawatiran pasar menguat setelah AS menyatakan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade, dan Iran menyatakan akan membalas. AS dilaporkan mempertahankan blokade pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran sempat mencabut blokade terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz, sebelum kemudian memberlakukannya kembali.

Data pengiriman menunjukkan lalu lintas melalui Selat Hormuz praktis terhenti pada hari Senin, dengan hanya tiga penyeberangan dalam kurun 12 jam. Sementara itu, data Kpler mencatat lebih dari 20 kapal yang mengangkut produk minyak, logam, gas, dan pupuk melintasi selat tersebut pada hari Sabtu, yang disebut sebagai hari tersibuk untuk jalur itu sejak 1 Maret.

Ekonom Investec, Sandra Horsfield, mengatakan pasar bereaksi terhadap setiap perkembangan yang berpotensi mengarah pada skenario berbeda, sehingga memicu fluktuasi besar. Menurutnya, situasi saat ini tetap tidak pasti dan bergejolak. Horsfield juga menilai pergerakan pada Jumat—ketika Iran menyatakan akan membuka Selat Hormuz—belum sepenuhnya berbalik, yang mengindikasikan sebagian sentimen perbaikan masih bertahan.

Dari sisi diplomasi, prospek negosiasi lanjutan AS-Iran dinilai belum jelas. Derren Nathan, kepala riset ekuitas di Hargreaves Lansdown, menyebut volatilitas yang lebih besar tampaknya menjadi hasil yang paling mungkin, meski apakah kebuntuan ini akan menjadi jalan memutar menuju resolusi masih perlu dilihat.

Kantor berita negara Iran pada Minggu melaporkan bahwa Iran menolak perundingan perdamaian baru dengan AS. Laporan itu muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengirim utusan untuk berunding di Pakistan dan akan melancarkan serangan baru terhadap Iran kecuali Iran menerima persyaratannya.

Di pasar obligasi, penguatan yang terjadi pada Jumat berbalik melemah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2,4 basis poin menjadi 4,2678%, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik 2,9 basis poin menjadi 2,9947%.

Dolar AS, yang disebut telah dijual selama hampir dua pekan terakhir, bergerak relatif stabil dan diperdagangkan pada level US$ 1,1773 per euro.

Sementara itu, indeks Wall Street mencetak rekor tertinggi pada Jumat, didorong ekspektasi kinerja laba kuartal pertama yang kuat, dengan sebagian besar laporan akan dirilis pada pekan ini. Sejumlah data ekonomi juga dijadwalkan terbit, termasuk inflasi Inggris, penjualan ritel AS, serta Indeks Manajer Pembelian (PMI) Eropa, meski perhatian pasar disebut tetap tertuju pada aktivitas pengiriman di Teluk Persia.

Bob Savage, kepala strategi makro pasar di BNY, menyatakan barometer risiko geopolitik kini praktis mengerucut pada satu data: jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurutnya, perundingan damai tetap penting, namun fokus utama saat ini adalah pada minyak dan potensi kekurangan pasokan lain yang dapat mendorong inflasi.

Di luar isu Timur Tengah, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan berpidato di Parlemen pada Senin dan menghadapi seruan untuk mundur terkait penanganannya atas penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar AS meski Mandelson disebut gagal dalam proses verifikasi.