Badan Energi Internasional (IEA) menilai eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi memicu krisis energi terburuk dalam sejarah. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang segera tercermin pada pergerakan harga komoditas energi global.
Di pasar minyak, harga mengalami kenaikan. Minyak acuan Brent dilaporkan menembus US$ 94,90 di tengah perang AS-Iran. Kenaikan harga tersebut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap pasokan dan stabilitas energi, terutama ketika konflik berisiko mengganggu arus distribusi dan memperbesar ketidakpastian.
Perkembangan di pasar komoditas juga terjadi pada emas. Harga emas dilaporkan naik 1,1% menjadi US$ 4.373,87, seiring pelaku pasar menanti sinyal arah suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Pergerakan ini menunjukkan meningkatnya perhatian investor terhadap aset lindung nilai di tengah situasi global yang bergejolak.
Di sisi lain, dinamika pasar keuangan turut menjadi sorotan. Disebutkan bahwa bank-bank di Inggris semakin banyak menjaminkan aset berisiko tinggi kepada Bank of England (BoE). Sementara itu di dalam negeri, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) Rp 326 miliar saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, dengan perhatian pasar tertuju pada saham-saham yang paling banyak dilepas.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, sejumlah isu ekonomi domestik juga mencuat. Pertumbuhan transaksi digital disebut belum sepenuhnya dinikmati oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, kebijakan wajib halal pada Oktober 2026 dinilai dapat menjadi momentum bagi industri halal untuk naik kelas.
Perkembangan terbaru ini memperlihatkan keterkaitan erat antara konflik geopolitik, pergerakan harga energi, dan respons pasar keuangan. Peringatan IEA menegaskan bahwa eskalasi konflik berisiko memperparah tekanan pada rantai pasok energi dan memicu dampak lebih luas terhadap perekonomian global.