Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mengguncang perekonomian global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah. Dalam situasi tersebut, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dari 5,0% menjadi 4,7%.
Namun, sinyal dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dinilai menunjukkan arah berbeda. Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menyebut ketahanan ekonomi nasional saat ini tengah berada pada titik uji yang krusial.
“Situasi ini merupakan ujian nyata bagi kesehatan ekonomi nasional. Kita harus melihat secara jeli apakah ekonomi kita benar-benar masih sehat atau mulai melorot di bawah tekanan eksternal yang kian tajam,” kata Herry dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (19/4).
Dalam laporan terbaru bertajuk Sinyal Daya Tahan Ekonomi Indonesia, NEXT Indonesia Center menelaah arah pertumbuhan melalui instrumen Composite Leading Indicator (CLI). Laporan itu juga menyoroti perbedaan proyeksi yang cukup lebar antara lembaga internasional, termasuk Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB).
ADB menyampaikan proyeksi yang lebih optimistis, dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menguat hingga 5,2% pada 2026. Angka tersebut disebut melampaui capaian tahun sebelumnya meski ketidakpastian global masih membayangi.
Herry menilai selisih proyeksi antara 4,7% dan 5,2% mencerminkan dinamisnya penilaian terhadap daya tahan ekonomi Indonesia. “Adanya perbedaan angka proyeksi ini membuktikan bahwa faktor ketidakpastian global sangat memengaruhi persepsi lembaga internasional terhadap fundamental ekonomi kita di tahun 2026,” ujarnya.
Untuk membaca momentum secara lebih objektif, NEXT Indonesia Center menggunakan data CLI yang dirilis OECD. CLI dirancang sebagai sistem peringatan dini yang mengolah sejumlah komponen, mulai dari pesanan industri hingga kepercayaan konsumen, untuk menangkap potensi titik balik siklus ekonomi sebelum data Produk Domestik Bruto (PDB) resmi dirilis.
Berdasarkan data terbaru per Maret 2026, CLI Indonesia tercatat konsisten berada di atas level 100, yakni 100,52. Dalam interpretasi yang digunakan, posisi di atas 100 menandakan fundamental ekonomi berada di atas rata-rata tren jangka panjang, yang dipahami sebagai sinyal peluang pertumbuhan tetap terjaga di kisaran lebih dari 5%.
Herry mengatakan, capaian CLI Indonesia tersebut menunjukkan momentum pertumbuhan masih relatif terjaga. Ia juga membandingkan posisi Indonesia dengan sejumlah ekonomi utama Asia, termasuk Tiongkok yang disebut CLI-nya terus menurun di bawah level 100.
“Data CLI kita memang masih berada di atas level 100, yang artinya secara fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki napas untuk tumbuh di atas rata-rata tren jangka panjangnya. Sinyal ini menjadi kompas yang menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan kita masih di wilayah positif di tengah volatilitas energi dunia,” kata Herry.