Indonesia berencana membuka Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Chengdu, Provinsi Sichuan, sebagai bagian dari upaya mempercepat ekspansi diplomatik dan ekonomi di kawasan Tiongkok Barat Daya. Rencana tersebut disampaikan Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, saat membuka forum Indonesia Updates bertema “Partnership for Resilience” pada Jumat, 17 April 2026 di Chengdu.
Pembukaan KJRI Chengdu disebut telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2026 yang ditandatangani Presiden RI pada Maret 2026. Djauhari menyatakan langkah ini mencerminkan prioritas Indonesia untuk meningkatkan kerja sama strategis dengan kawasan Tiongkok Barat Daya, dengan Chengdu diposisikan sebagai pintu gerbang (gateway) kerja sama.
Chengdu dinilai memiliki posisi strategis karena berada di Sichuan, yang disebut sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di Tiongkok. Nilai perdagangan Indonesia dengan Sichuan tercatat lebih dari 2,1 miliar dolar AS pada 2025.
Djauhari juga memaparkan gambaran hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok secara nasional. Menurutnya, total perdagangan kedua negara mencapai 167 miliar dolar AS, dengan investasi sebesar 7,5 miliar dolar AS. Dengan kehadiran KJRI, Chengdu diharapkan menjadi simpul baru kerja sama Indonesia dan Tiongkok.
Ia menambahkan, penguatan kerja sama tidak hanya diarahkan pada sektor perdagangan dan investasi, tetapi juga mencakup bidang kesehatan, energi, pendidikan, hingga pariwisata.
Dalam forum tersebut, KBRI Beijing turut memaparkan peluang kolaborasi di sejumlah sektor strategis, termasuk hilirisasi industri berbasis energi terbarukan, pengembangan battery storage, penguatan pendidikan vokasi, serta promosi produk unggulan seperti durian beku yang disebut mulai menembus pasar Tiongkok sejak awal 2026.
Di sela kegiatan, Djauhari bertemu dengan Sekretaris Partai Provinsi Sichuan, Wang Xiaohui. Keduanya menyoroti pentingnya hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact) sebagai fondasi kemitraan jangka panjang.
Simbol kedekatan tersebut antara lain disebut tercermin dari kelahiran bayi panda bernama “Ksatrio” di Taman Safari Bogor, mengingat Sichuan merupakan pusat konservasi panda dunia. Selain itu, konektivitas kedua wilayah juga disebut semakin terbuka melalui penerbangan langsung Chengdu–Jakarta dan Chengdu–Bali.
Djauhari juga menyinggung penguatan kerja sama subnasional, termasuk hubungan sister province antara Sichuan dan Jawa Barat, serta status Chengdu sebagai sister city.