Indonesia memperkuat diplomasi pendidikan dan kebudayaan melalui Webinar Series yang diselenggarakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan bersama Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO. Rangkaian kegiatan ini berlangsung pada 25 April hingga 5 Mei 2026.
Pada sesi 30 April 2026, pembahasan difokuskan pada tiga negara mitra strategis di kawasan Asia Pasifik, yakni Thailand, Filipina, dan Australia. Kegiatan tersebut diikuti 108 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, akademisi, serta pemangku kepentingan pendidikan dari berbagai wilayah.
Kantor Tetap Wakil RI untuk UNESCO menyatakan webinar ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk memperluas akses informasi pendidikan global, memperkuat jejaring akademik internasional, serta mendorong kolaborasi riset dan inovasi lintas negara.
Inisiatif ini juga dikaitkan dengan tren mobilitas mahasiswa Indonesia ke luar negeri yang terus meningkat. Data UNESCO Institute for Statistics mencatat jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri mencapai sekitar 59.224 orang pada 2024, menempatkan Indonesia sekitar peringkat ke-22 dunia. Kawasan Asia Pasifik disebut tetap menjadi salah satu tujuan utama, selain Australia dan Eropa Barat.
Dalam sesi tersebut, masing-masing atase pendidikan dan kebudayaan (atdikbud) memaparkan perkembangan sistem pendidikan, peluang studi, serta potensi kerja sama di negara akreditasi mereka. Paparan juga dilengkapi data terkini mengenai jumlah pelajar Indonesia serta kebijakan pendidikan yang relevan.
Atdikbud KBRI Bangkok, Cyti Daniela Aruan, menjelaskan bahwa Thailand memiliki populasi sekitar 70,3 juta jiwa dengan lebih dari 154 institusi pendidikan tinggi. Ia menyebut Thailand terus mengembangkan sektor pendidikan tinggi melalui kebijakan inovatif seperti Higher Education Sandbox serta penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.
Saat ini terdapat sekitar 1.155 pelajar Indonesia di Thailand, baik dalam program penuh maupun jangka pendek. Cyti menilai peluang kerja sama masih terbuka luas, terutama untuk pengembangan riset terapan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Atdikbud KBRI Manila, Nina Yulianti, menguraikan sistem pendidikan Filipina yang terstruktur melalui tiga lembaga utama, yakni DepEd, CHED, dan TESDA. Filipina yang memiliki lebih dari 7.600 pulau menyediakan pendidikan gratis bagi warga negara pada jenjang dasar hingga perguruan tinggi negeri, meskipun mahasiswa asing tetap dikenakan biaya tambahan.
Nina menyebut saat ini terdapat sekitar 300 pelajar Indonesia di Filipina, terutama di kawasan National Capital Region dan Mindanao. Ia menilai biaya yang relatif terjangkau serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa Indonesia. Menurutnya, sistem pendidikan Filipina juga terhubung dengan standar internasional melalui berbagai pemeringkatan global seperti WURI, THE, UI GreenMetric, dan QS Asia University Rankings.
Selain itu, Nina menambahkan dukungan pengembangan sumber daya manusia diperkuat melalui program magang, pengabdian masyarakat, serta fasilitasi lisensi profesional oleh Professional Regulation Commission (PRC), khususnya di bidang seperti keperawatan yang memiliki mobilitas global tinggi.
Pada sesi yang sama, Atdikbud KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, menegaskan posisi Australia sebagai salah satu destinasi utama pendidikan tinggi bagi mahasiswa Indonesia. Ia menyampaikan jumlah pelajar Indonesia di Australia telah melampaui 30.000 orang.
Yuli juga menyebut Australia memiliki sembilan universitas yang masuk 100 besar dunia menurut berbagai pemeringkatan global, yang mencerminkan daya saing pendidikan tinggi negara tersebut. Ia menilai Australia menawarkan ekosistem pendidikan yang kuat, termasuk peluang beasiswa dan kolaborasi riset yang dapat dimanfaatkan mahasiswa dan akademisi Indonesia.
Dalam diskusi, peserta mengajukan pertanyaan seputar peluang studi lanjut, mobilitas akademik, pengakuan kualifikasi, serta skema kerja sama penelitian. Forum itu menjadi ruang pertukaran informasi bagi mahasiswa dan akademisi yang mempertimbangkan studi di kawasan Asia Pasifik.
Melalui kegiatan tersebut, para atdikbud bersama Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO menegaskan komitmen memperkuat kualitas pendidikan Indonesia melalui kerja sama internasional berbasis kebutuhan nyata dan peluang strategis. Pendekatan itu tidak hanya menekankan peningkatan jumlah mobilitas mahasiswa, tetapi juga kualitas kolaborasi akademik, termasuk riset bersama, pertukaran dosen, dan pengembangan kurikulum berbasis global.
Tingginya antusiasme peserta dinilai mencerminkan meningkatnya minat terhadap pendidikan global sekaligus kebutuhan akan informasi yang kredibel dan terstruktur. Webinar ini diharapkan dapat mendorong lahirnya kolaborasi konkret antara Indonesia dan negara mitra, serta memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pendidikan global yang semakin kompetitif.