BERITA TERKINI
Industri Sawit Sumbang 6,47 Persen PDB 2024, Pemerintah Siapkan Mandatori Biodiesel B50 pada 2026

Industri Sawit Sumbang 6,47 Persen PDB 2024, Pemerintah Siapkan Mandatori Biodiesel B50 pada 2026

Jakarta — Industri kelapa sawit nasional tercatat berkontribusi 6,47 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2024, di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sektor ini disebut menjadi salah satu penopang stabilitas ekonomi ketika dinamika perdagangan dunia memasuki fase penyesuaian baru akibat kebijakan tarif dan perubahan strategi dagang di sejumlah negara besar.

Pada 2024, kinerja ekonomi Indonesia tetap stabil di kisaran 5,0 persen. Pada periode yang sama, neraca perdagangan crude palm oil (CPO) dilaporkan mencatat surplus sebesar 24,6 miliar dolar AS. Capaian tersebut menunjukkan peran komoditas perkebunan dalam menopang surplus perdagangan nasional, meski pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan melambat menjadi 3,1 persen pada 2026 menurut laporan lembaga keuangan internasional.

Ketidakpastian pasar global saat ini dipengaruhi sejumlah faktor risiko yang dapat mengganggu arus perdagangan komoditas nabati dunia. Faktor itu antara lain ketegangan geopolitik yang memicu gangguan rantai pasok, penerapan proteksionisme perdagangan oleh negara mitra dagang utama, serta fluktuasi harga komoditas akibat perubahan kebijakan ekspor dan penerapan tarif resiprokal.

Di dalam negeri, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merencanakan peningkatan bauran energi melalui kebijakan mandatori biodiesel dari B40 menuju B50. Kebijakan ini dijadwalkan mulai diimplementasikan pada semester kedua 2026.

Langkah tersebut diproyeksikan meningkatkan konsumsi CPO domestik sebesar 2,2 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah menilai peningkatan serapan untuk biodiesel dapat mengurangi ketergantungan pada impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Namun, kenaikan kebutuhan domestik untuk program biodiesel berpotensi memengaruhi ruang ekspor CPO Indonesia. Alokasi penggunaan nonpangan diperkirakan meningkat dari 37,3 persen menjadi 38,5 persen pada tahun depan berdasarkan data internasional.

Sementara itu, pasar ekspor di negara konsumen besar seperti Pakistan dan Cina masih menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap impor minyak nabati. Kebutuhan impor diproyeksikan meningkat masing-masing 3,4 persen dan 10,6 persen.

Sejumlah indikator turut memengaruhi prospek pertumbuhan pasar global, antara lain peningkatan efisiensi pengolahan kebun melalui optimalisasi teknologi kecerdasan buatan, pemulihan sektor hilir pada industri makanan, kimia, dan oleokimia, serta pergeseran pola konsumsi global menuju bahan baku bioenergi yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Perekonomian Asia diproyeksikan tetap menjadi motor pertumbuhan dengan perkiraan pertumbuhan India 6,2 persen dan Cina 4,2 persen pada 2026. Kondisi ini dinilai membuka peluang ekspansi pasar produk turunan kelapa sawit.

Industri sawit juga disebut telah bertransformasi dari sekadar komoditas pangan menjadi aset strategis dalam transisi energi global, seiring produktivitas lahannya yang dinilai lebih efisien dibandingkan minyak kedelai maupun minyak bunga matahari.