BERITA TERKINI
Iran Nyatakan Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Selama Blokade AS Berlanjut

Iran Nyatakan Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Selama Blokade AS Berlanjut

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran menyatakan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu tidak akan dilakukan selama blokade militer Amerika Serikat masih berlangsung. Pernyataan ini muncul di tengah perpanjangan gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump, yang pada saat bersamaan tetap mempertahankan tekanan melalui blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz “tidak mungkin dilakukan” selama terjadi apa yang ia sebut sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap gencatan senjata. Menurutnya, pelanggaran tersebut mencakup blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran serta eskalasi militer Israel di berbagai front.

Situasi keamanan di Selat Hormuz juga dilaporkan memburuk. Lalu lintas kapal disebut tinggal tersisa dalam jumlah sangat terbatas, sementara kondisi perairan dinilai semakin berbahaya. Analis keamanan BBC, Frank Gardner, menilai situasi ini bukan hanya merugikan Iran, tetapi juga berdampak signifikan terhadap ekonomi global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.

Di lapangan, ketegangan turut dipicu insiden terhadap kapal-kapal niaga. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan menyita dua kapal kargo di Selat Hormuz dan menariknya ke perairan Iran. Media Iran juga melaporkan satu kapal lain menjadi sasaran serangan dan kini tidak beroperasi di lepas pantai Iran. Peristiwa itu terjadi tak lama setelah laporan badan maritim internasional menyebut adanya penembakan terhadap sedikitnya dua kapal kontainer di kawasan tersebut.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran diperpanjang “hingga pembicaraan selesai”, namun menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan. Sumber yang dikutip CNN menyebut Washington memberikan batas waktu terbatas kepada Teheran untuk mengajukan proposal terpadu sebagai dasar melanjutkan negosiasi damai.

Meski begitu, jalur diplomasi masih belum menunjukkan kepastian. Perundingan lanjutan AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, dilaporkan belum dimulai. Sebelumnya, Pakistan telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah bagi putaran baru negosiasi tingkat tinggi.

Di tengah eskalasi, kekhawatiran internasional ikut meningkat terkait keselamatan pelaut dan kelangsungan pelayaran. Sekretaris Jenderal International Maritime Organization, Arsenio Dominguez, mendesak pembebasan segera para pelaut sipil yang ditahan. Ia juga menyebut hampir 20.000 pelaut masih terjebak di kawasan Teluk dan menghadapi ketidakpastian untuk kembali ke negara asal.

Dominguez menegaskan bahwa hanya berakhirnya konflik yang dapat membuat Selat Hormuz kembali aman bagi kapal-kapal yang menopang ekonomi global. Perkembangan terbaru ini menandai fase ketegangan yang kian kompleks, ketika gencatan senjata tetap berlaku secara formal namun tekanan militer dan ekonomi terus berjalan, menjadikan Selat Hormuz titik krusial dengan implikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan harga energi.