Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan hingga kini belum ada rencana untuk putaran negosiasi berikutnya dan belum ada keputusan yang diambil terkait kelanjutan perundingan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers pada Senin (20/4/2026), di tengah kritik Iran terhadap sikap Amerika Serikat yang dinilai tidak menunjukkan keseriusan dalam diplomasi.
Dalam pembukaan konferensi pers, Baghaei menyinggung peringatan Hari Perempuan yang menurutnya tahun ini bertepatan dengan suasana duka akibat korban dalam agresi militer. Ia juga menyampaikan klaim mengenai seorang anak bernama Makan Nasiri yang disebut menjadi korban dalam peristiwa pada 28 Februari bersama lebih dari 170 siswa dan guru, serta menyebutnya sebagai kejahatan perang Amerika.
Menanggapi pertanyaan mengenai gencatan senjata yang sedang berlangsung dan desakan AS agar tidak menerima pertukaran, Baghaei menyatakan Iran tidak melupakan pengalaman setahun terakhir. Ia menuduh AS dua kali dalam kurun kurang dari sembilan bulan “mengkhianati diplomasi” di tengah negosiasi, melanggar hukum internasional, menyerang kedaulatan Iran, menewaskan sejumlah pemimpin dan warga Iran, serta merusak aset Iran.
Baghaei menilai Washington masih “bersikeras pada posisi tidak masuk akal dan tidak realistis”. Ia mengatakan Iran akan tetap waspada dalam proses diplomatik, bahkan lebih dari saat perang, karena menurutnya ada potensi konspirasi dari pihak lawan.
Ketika ditanya mengenai pemberitaan media tentang perjalanan delegasi AS ke Islamabad untuk pertemuan pada Selasa, Baghaei menyatakan Iran belum memiliki rencana untuk putaran negosiasi berikutnya. Ia menambahkan, di saat AS mengklaim siap bernegosiasi, tindakan yang dilakukan justru tidak mencerminkan keseriusan dalam mengejar proses diplomatik.
Baghaei juga menuding AS melanggar kesepahaman gencatan senjata. Ia menyebut sejak awal pelaksanaan gencatan senjata, Iran menghadapi pengingkaran janji, termasuk perbedaan penafsiran mengenai cakupan gencatan senjata Lebanon yang menurutnya telah ditegaskan mediator Pakistan. Ia juga menyoroti tindakan di Selat Hormuz yang disebut AS sebagai “blokade laut”, serta serangan terhadap kapal dagang Iran dalam beberapa jam terakhir, yang menurutnya merupakan pelanggaran jelas terhadap gencatan senjata.
Menurut Baghaei, blokade laut dan pelabuhan suatu negara, berdasarkan resolusi Majelis Umum PBB yang ia sebut sebagai dokumen konsensus, merupakan tindakan agresif. Ia menyimpulkan ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan AS memperkuat kecurigaan Iran terhadap niat Washington, seraya menyatakan Iran akan mengambil keputusan selanjutnya dengan mempertimbangkan kepentingan nasional.
Terkait batas waktu gencatan senjata dua minggu yang disebut hampir habis, Baghaei menegaskan Iran tidak mengakui tenggat waktu atau ultimatum dalam upaya mengamankan kepentingan nasional. Ia menyatakan Iran tidak memulai perang dan mengklaim tindakan Iran pada Juni dan Februari dilakukan untuk membela kedaulatan. Ia juga memperingatkan bahwa jika AS atau “rezim Zionis” melakukan langkah baru, angkatan bersenjata Iran siap membela negara.
Dalam konteks kemungkinan kesepakatan, Baghaei mengatakan “kepercayaan bukanlah landasan” Iran. Ia menilai wajar bila tidak ada kepercayaan dalam negosiasi dengan AS, dengan alasan adanya pelanggaran jangka panjang dan terus-menerus. Ia menegaskan keputusan Iran akan didasarkan pada kepentingan dan kemaslahatan negara.
Baghaei turut menyinggung dinamika proposal dalam perundingan. Ia mengatakan AS awalnya mengajukan proposal 15 butir, kemudian Iran mengajukan proposal balasan 10 butir. Berdasarkan itu, ia menyebut telah berlangsung negosiasi ekstensif di Islamabad, dan hasilnya dikemas dalam sebuah paket yang dikaji selama kunjungan Panglima Militer Pakistan Jenderal Asim Munir ke Tehran.
Baghaei menyatakan posisi Iran “jelas” dan “konsisten”, berbeda dengan pihak lawan yang menurutnya kerap mengubah posisi, mengganti tuntutan, dan membuat pernyataan kontradiktif di media. Ia menambahkan ada sejumlah isu yang sejak awal dinyatakan tidak dapat diterima, dan desakan tidak akan mengubah posisi Iran. Ia juga menyebut berbagai rincian yang beredar di media tidak dapat dikonfirmasi.
Menjawab pertanyaan tentang prasyarat negosiasi mendatang, Baghaei menegaskan landasan Iran adalah kepentingan nasional dan hak-hak yang menurutnya tidak akan dibiarkan dirampas. Ia kembali menyoroti dugaan pelanggaran gencatan senjata di Lebanon, “blokade laut” terhadap Iran, serta serangan terhadap kapal dagang, yang ia sebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional, Piagam PBB, dan gencatan senjata. Dalam situasi itu, ia mempertanyakan bagaimana Iran dapat mempercayai klaim AS mengenai kompromi dan diplomasi.