BERITA TERKINI
Krisis Selat Hormuz Dinilai Ubah Pasar Energi Global, AS dan China Berebut Pengaruh Energi Masa Depan

Krisis Selat Hormuz Dinilai Ubah Pasar Energi Global, AS dan China Berebut Pengaruh Energi Masa Depan

BERLIN — Ketegangan di kawasan Teluk Persia antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diperkirakan akan mengubah wajah pasar energi global secara permanen dalam jangka panjang. Di tengah krisis Selat Hormuz, perhatian turut tertuju pada persaingan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, AS dan China, dalam upaya mendominasi arsitektur energi masa depan.

Direktur Willy Brandt School of Public Policy, Andreas Goldthau, menilai agenda dominasi energi AS bertumpu pada pasar energi fosil dan upaya memanfaatkan kekayaan tersebut untuk kepentingan politik. “Di AS, agenda dominasi energi sangat bergantung pada pasar energi fosil dan mencoba memanfaatkan kekayaan tersebut secara politik,” kata Goldthau.

Menurut Goldthau, strategi Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump diarahkan untuk memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil selama mungkin. Slogan “Drill, baby, drill” disebut menjadi penanda dorongan AS untuk meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri, yang tidak hanya diposisikan sebagai sumber energi, tetapi juga instrumen kebijakan luar negeri serta penguat pengaruh ekonomi terhadap negara mitra.

Gedung Putih, berdasarkan klaim yang disampaikan, menyebut produksi minyak AS saat ini lebih besar dibanding gabungan produksi Arab Saudi dan Rusia. Perubahan ini didorong oleh revolusi fracking yang membuat AS beralih dari importir terbesar menjadi salah satu eksportir gas utama dunia.

Dalam perkembangan tersebut, ekspor gas AS juga dipandang memiliki dimensi geopolitik. Produksi dan pasokan energi disebut dimanfaatkan sebagai posisi tawar dalam negosiasi tarif dagang, termasuk dalam hubungan dengan negara-negara di Eropa dan Asia.