Labschool Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat kerja sama strategis dengan Uzbekistan State World Languages University (USWLU) dalam pertemuan yang digelar di Gedung Rektorat Lantai 10, Kampus 2 Unesa Lidah Wetan, Surabaya, Rabu (29/04/2026). Kolaborasi ini diarahkan pada penguatan empat bidang utama, yakni pendidikan, penelitian, kebudayaan, serta pertukaran talenta muda.
Dalam pertemuan tersebut, guru dan tenaga kependidikan (tendik) Labschool Unesa menyambut delegasi dari Tashkent, Uzbekistan. Salah satu implementasi konkret kerja sama ini adalah kedatangan 15 mahasiswa asal Tashkent yang akan menjalani magang selama satu bulan di Labschool Unesa. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya interaksi pembelajaran di kelas, sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan budaya.
Kerja sama ini juga membuka peluang bagi lulusan Labschool Unesa untuk melanjutkan studi di Uzbekistan. USWLU menawarkan program beasiswa bagi siswa lulusan Labschool Unesa yang ingin menempuh pendidikan lanjut di negara tersebut.
Wakil Dekan USWLU, Prof. Gulam Ataev, menyatakan bahwa Surabaya melalui Labschool Unesa dinilai sebagai mitra strategis yang memiliki kesamaan visi dalam menyiapkan generasi berwawasan global. Ia menekankan bahwa pengiriman mahasiswa ke Indonesia tidak hanya untuk kegiatan mengajar, tetapi juga untuk membangun jembatan emosional dan intelektual antarkedua institusi.
“Kami tidak hanya mengirimkan mahasiswa untuk mengajar, tetapi untuk membangun jembatan emosional dan intelektual. Indonesia memiliki sistem pendidikan yang hangat dan inklusif. Melalui beasiswa yang kami sediakan, kami ingin siswa-siswa terbaik Labschool Unesa melihat dunia dari perspektif Uzbekistan—titik temu sejarah Jalur Sutra dan modernitas akademik,” ujar Prof. Ataev.
Direktur Labschool Unesa, Prof. Dr. Sujarwanto, M.Pd., menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya internasionalisasi pendidikan yang tidak dibatasi sekat geografis. Menurutnya, kerja sama ini bukan sekadar pertukaran siswa, melainkan pertukaran intelektual yang juga memberi kesempatan bagi guru dan tendik untuk terpapar standar global.
“Ini bukan sekadar pertukaran siswa, ini adalah intellectual exchange. Kami ingin guru dan tendik kami terpapar pada standar global agar kualitas instruksional di Labschool setara dengan sekolah-sekolah terbaik di dunia. Kehadiran 15 mahasiswa Uzbekistan di sini adalah laboratorium hidup bagi siswa kami untuk belajar diplomasi dan bahasa secara natural,” tutur Prof. Sujarwanto.
Ia menambahkan, kerja sama melalui jalur beasiswa dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun jejaring internasional dan pemahaman lintas budaya bagi peserta didik.
“Pendidikan adalah instrumen diplomasi yang paling tajam. Dengan mengirimkan siswa kami ke Uzbekistan melalui jalur beasiswa ini, kita sedang menanam investasi jangka panjang. Mereka akan pulang sebagai pemimpin yang memiliki jejaring internasional dan pemahaman budaya yang mendalam. Labschool Unesa tidak lagi hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tapi lulusan yang siap mewarnai dunia,” pungkasnya.