BERITA TERKINI
Laporan: Hampir Sepertiga Nilai Ekonomi Global Hilang Tiap Tahun, Ekonomi Sirkular Dinilai Jadi Solusi

Laporan: Hampir Sepertiga Nilai Ekonomi Global Hilang Tiap Tahun, Ekonomi Sirkular Dinilai Jadi Solusi

Hampir sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) global disebut hilang setiap tahun akibat penggunaan energi dan sumber daya yang tidak efisien. Temuan ini disampaikan dalam Circularity Gap Report terbaru yang dirilis lembaga think tank Circle Economy bersama Deloitte Belanda.

Laporan tersebut memperkirakan kerugian nilainya setara sekitar 1 euro dari setiap 3 euro nilai ekonomi yang dihasilkan, atau total lebih dari 25 triliun euro per tahun—sekitar Rp512,7 kuadriliun. Peralihan dari model ekonomi tradisional ke ekonomi sirkular dinilai dapat membantu menyelamatkan sebagian besar nilai ekonomi yang terbuang itu.

Pimpinan laporan sekaligus penulis utama penelitian, Alvaro Conde, menilai hilangnya nilai tersebut bukan semata persoalan kecil, melainkan terkait struktur dan sistem ekonomi yang ada. Ia menekankan bahwa pola ekonomi saat ini cenderung dirancang untuk mengejar keuntungan maksimal tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi manusia dan lingkungan.

Menurut laporan itu, kondisi tersebut mendorong pengambilan sumber daya alam yang terus meningkat, pemanfaatan barang yang tidak optimal, serta penumpukan sampah. Circle Economy juga menyoroti bahwa tolak ukur ekonomi yang umum digunakan, seperti PDB, tidak memasukkan upaya penghematan nilai dan cenderung mengabaikan persoalan sampah serta menipisnya sumber daya alam. Akibatnya, kerugian nilai ekonomi yang besar kerap tidak terlihat dalam pengambilan keputusan.

Dalam laporan-laporan sebelumnya, fokus kajian lebih banyak pada “metrik sirkularitas”, yakni porsi bahan yang digunakan di dunia yang berasal dari daur ulang atau penggunaan kembali. Pada laporan tahun 2025, metrik tersebut berada di level 6,9 persen, turun dari 7,2 persen pada 2023.

Untuk edisi 2026, Circle Economy mengalihkan sorotan ke perspektif ekonomi. Laporan itu mencatat penggunaan bahan baku terus meningkat, sementara produktivitas sumber daya global cenderung stagnan selama satu dekade terakhir. Dalam konteks ini, ekonomi sirkular dipandang sebagai cara bagi bisnis dan negara untuk kembali memperoleh efisiensi yang nyata, sekaligus melindungi alam dan menekan emisi.

Dalam menghitung total “kesenjangan nilai”, Circle Economy mengukur dua komponen: nilai fungsional (manfaat material dan produk beserta harga pasarnya) serta nilai yang tercipta dari dampak lingkungan dan sosial yang lebih luas, baik positif maupun negatif.

Laporan tersebut mengidentifikasi lima penyebab utama hilangnya nilai ekonomi global, yakni kerugian selama proses pengolahan, pemborosan energi, sisa dan pemborosan makanan, sampah dari barang yang sudah tidak terpakai, serta penyusutan aset modal.

Dari lima faktor itu, kerugian terbesar disebut terjadi pada sampah akhir pakai, yakni ketika produk atau bahan dibuang tanpa digunakan kembali atau didaur ulang. Nilainya diperkirakan mencapai 10 triliun euro atau sekitar Rp201.860 triliun.

Laporan juga mengutip proyeksi dari WRAP yang menyebut jumlah sampah diperkirakan meningkat lebih dari 80 persen pada 2050 dibanding 2020. Kondisi ini dinilai berpotensi membuat nilai ekonomi yang hilang terus membengkak apabila tidak ada upaya mendorong penerapan ekonomi sirkular.

Selain sampah, pemborosan energi menjadi sorotan lain dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai 8,7 triliun euro per tahun, atau sekitar Rp175.618 triliun. Secara keseluruhan, laporan menegaskan ekonomi sirkular tidak hanya terkait agenda lingkungan, tetapi juga dinilai menawarkan peluang ekonomi yang besar melalui peningkatan efisiensi dan pengurangan pemborosan.