BERITA TERKINI
Lima Strategi Korporasi Menghadapi Ketidakpastian Global dan Memaksimalkan Peluang Indonesia–Tiongkok

Lima Strategi Korporasi Menghadapi Ketidakpastian Global dan Memaksimalkan Peluang Indonesia–Tiongkok

Ketegangan geopolitik global kembali meningkat seiring memanasnya hubungan Amerika Serikat–Israel dan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas Timur Tengah dan jalur perdagangan energi dunia, di tengah risiko gangguan logistik dan kenaikan biaya distribusi.

Pada saat yang sama, kebijakan perdagangan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah pemerintah AS menerapkan tarif impor global sementara yang dapat mencapai sekitar 15 persen. Kebijakan ini menambah ketidakpastian bagi perdagangan internasional dan mendorong arus perdagangan serta investasi mencari kawasan yang lebih stabil.

Dalam konteks tersebut, Asia dinilai semakin menonjol sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Indonesia berada pada posisi strategis dengan prospek pertumbuhan yang tetap kuat dan stabilitas domestik yang relatif terjaga. Peningkatan konektivitas regional juga mempererat integrasi Indonesia dalam arus perdagangan dan investasi kawasan, termasuk melalui kemitraan ekonomi dengan Tiongkok yang kian penting dalam rantai pasok dan investasi regional.

Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menyebut momentum Indonesia–Tiongkok tidak sekadar peluang perdagangan, tetapi juga mencerminkan transformasi lanskap bisnis regional yang semakin terintegrasi. Ia menyampaikan pernyataan itu pada Senin (20/4).

Bank DBS, melalui rekomendasi dari perspektif perbankan, menyoroti sejumlah strategi agar korporasi tetap resilien sekaligus mampu menangkap peluang bisnis lintas negara, termasuk yang terkait dengan Tiongkok, di tengah ketidakpastian global.

1. Antisipasi risiko geopolitik lewat diversifikasi pasar dan rantai pasok

Geopolitik dipandang menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika ekonomi global pada 2026. Eskalasi konflik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, berisiko mengganggu jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Dampaknya dapat meningkatkan volatilitas pasar serta menambah tekanan pada rantai pasok global.

Di sisi lain, kawasan Asia masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang relatif kuat. DBS Group Research memproyeksikan ekonomi Tiongkok tetap tumbuh sekitar 4,5 persen dengan dukungan kebijakan moneter yang akomodatif, sehingga aktivitas perdagangan dan investasi regional dinilai tetap terjaga.

Bagi korporasi Indonesia, kondisi ini membuka peluang menyeimbangkan risiko global melalui diversifikasi pasar dan penguatan keterlibatan dalam rantai pasok regional yang terintegrasi, dengan Tiongkok sebagai pusat manufaktur global. Namun ekspansi lintas negara juga membawa tantangan seperti perubahan regulasi, fluktuasi permintaan, dan volatilitas nilai tukar. Karena itu, perusahaan disarankan memperkuat ketahanan operasional melalui diversifikasi jalur logistik, perluasan jaringan mitra, scenario planning, serta fleksibilitas keuangan.

2. Kelola risiko nilai tukar dalam bisnis lintas negara

Untuk aktivitas lintas negara, termasuk perdagangan Indonesia–Tiongkok, DBS Group Research memperkirakan nilai tukar USD/IDR berada di kisaran Rp 16.350 pada akhir 2026, melanjutkan tren penguatan dolar yang berlangsung sejak 2025. Meski Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah, tekanan eksternal tetap berpotensi memicu fluktuasi yang signifikan.

Korporasi dengan eksposur impor bahan baku, utang dalam valuta asing, atau proyek lintas negara dinilai paling rentan. Dalam konteks ini, pengelolaan risiko nilai tukar disebut tidak lagi opsional. Sejumlah langkah yang disorot mencakup hedging, natural hedge melalui pencocokan arus kas, serta penyesuaian struktur pembiayaan berdasarkan mata uang pendapatan untuk menjaga margin dan arus kas tetap sehat.

3. Bangun struktur keuangan untuk peluang jangka panjang

Prospek ekonomi Indonesia dinilai relatif kuat, didukung meningkatnya konektivitas dengan Tiongkok sebagai mitra dagang utama. Pertumbuhan Indonesia diproyeksikan sekitar 5,3 persen dengan inflasi terjaga di kisaran 2,8 persen. Di sisi lain, ekonomi Tiongkok diperkirakan tetap tumbuh dengan inflasi rendah sekitar 0,5 persen dan suku bunga berpotensi berada di kisaran 2,75 persen.

Kombinasi stabilitas di kedua negara dipandang menciptakan lingkungan kondusif bagi peningkatan investasi lintas negara, pembiayaan perdagangan, dan kolaborasi industri jangka panjang. Namun, volatilitas arus modal, tekanan nilai tukar, serta ketidakpastian geopolitik tetap perlu diantisipasi. Karena itu, korporasi disarankan memastikan neraca yang sehat, tingkat leverage terukur, serta diversifikasi sumber pendanaan agar tetap fleksibel dalam mengambil keputusan investasi.

4. Manfaatkan pergeseran rantai pasok regional

Dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan global juga mendorong perubahan struktural rantai pasok internasional, yang membuka peluang bagi negara-negara Asia mengambil peran lebih besar dalam ekosistem produksi global. Tren ini terlihat dari langkah perusahaan-perusahaan Tiongkok yang memperluas pasar dan basis produksi ke luar Amerika Serikat, dengan Indonesia menjadi salah satu tujuan utama.

Posisi Tiongkok sebagai investor asing di Indonesia disebut melonjak dari peringkat ke-9 pada 2015 menjadi peringkat ke-2 pada 2019. Sepanjang 2019 hingga September 2024, nilai investasinya mencapai sekitar USD 34,19 miliar atau setara 18 persen dari total investasi asing, dengan konsentrasi terbesar pada industri logam dasar, transportasi dan logistik, kimia, energi, serta pengembangan kawasan industri.

Konsentrasi tersebut menunjukkan peluang bagi korporasi Indonesia tidak hanya pada ekspor komoditas, tetapi juga keterlibatan dalam rantai nilai industri yang lebih luas. Pelaku usaha dinilai dapat memanfaatkan momentum ini untuk menjalin kemitraan strategis, membangun joint venture, dan mengintegrasikan jaringan produksi lintas negara, termasuk peluang transfer teknologi, peningkatan efisiensi, serta pertumbuhan jangka panjang.

5. Perkuat posisi dalam rantai pasok global dan kolaborasi industri

Perubahan kebijakan tarif Amerika Serikat menciptakan dinamika baru bagi perdagangan global, termasuk Indonesia, dengan tarif produk Indonesia kembali mendekati MFN ditambah tarif sementara 15 persen hingga pertengahan 2026. Kondisi ini dinilai memberi ruang bagi produk Indonesia meningkatkan daya saing di pasar AS, namun karena tarif sementara berlaku seragam bagi banyak negara, pelaku usaha tetap perlu menerapkan strategi ekspor adaptif, diversifikasi pasar, serta memperkuat efisiensi rantai pasok.

Dalam penguatan rantai nilai industri, Tiongkok dipandang sebagai mitra strategis yang terus meningkatkan investasi di sektor-sektor kunci seperti logam, transportasi, logistik, kimia, dan energi. Pembaruan kerja sama Two Parks Twin Countries (TCTP) pada Mei 2025 disebut mencerminkan fokus kedua negara pada pengembangan kapasitas industri dan nilai tambah, membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk terlibat dalam manufaktur, pengolahan, dan pengembangan teknologi bersama mitra Tiongkok.

Anthonius menilai perusahaan yang siap secara finansial dan strategis akan memiliki posisi lebih kuat dalam rantai nilai global. Ia juga menyampaikan bahwa Bank DBS Indonesia mendukung nasabah, termasuk perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Tiongkok, melalui penyediaan insight serta akses pandangan pakar dalam menghadapi dinamika ekonomi dan pasar global.

Seiring meningkatnya konektivitas bisnis Indonesia–Tiongkok, DBS Global Financial Markets (GFM) disebut menawarkan solusi keuangan adaptif dan terintegrasi untuk membantu investor dan pelaku pasar mengelola risiko nilai tukar serta volatilitas pasar dalam aktivitas lintas negara. Dukungan tersebut turut diwujudkan melalui forum diskusi dan market outlook, termasuk webinar “2026 Steering through Political and Economic Uncertainties” bagi korporasi Tiongkok yang beroperasi di Indonesia.