Ketegangan geopolitik global mulai berdampak pada rantai pasok industri, termasuk sektor petrokimia. Lotte Chemical Titan Holding Bhd mengambil langkah antisipatif dengan mengamankan pasokan bahan baku melalui kontrak nafta dengan anak usahanya di Indonesia.
Nafta merupakan sulingan minyak bumi bertitik didih rendah yang mudah menguap, dan umum digunakan sebagai pelarut maupun bahan bakar. Dalam industri petrokimia, komoditas ini menjadi salah satu bahan baku penting.
Kontrak yang disepakati bernilai USD25,29 juta atau sekitar Rp433 miliar. Kesepakatan tersebut dilakukan antara Lotte Chemical Titan (M) Sdn Bhd (LCTM) dan PT Lotte Chemical Indonesia (LCI).
Perusahaan menyebut langkah ini sebagai respons atas meningkatnya risiko operasional akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta penutupan Selat Hormuz. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Malaysia, perusahaan menyatakan transaksi tersebut dilakukan untuk memitigasi risiko operasional dan memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku.
Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz dinilai berpotensi mengganggu distribusi energi global, termasuk pasokan bahan baku petrokimia seperti nafta. Melalui kesepakatan ini, Lotte berupaya menjaga stabilitas produksi, khususnya pada fasilitas yang terkait dengan operasional di Indonesia.