JAKARTA – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Indonesia berlangsung di tengah ketidakpastian global. Eskalasi konflik geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, disebut turut menekan stabilitas ekonomi dunia dan berdampak hingga ke dalam negeri.
Tekanan tersebut dirasakan tidak hanya oleh industri besar, tetapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta tenaga kerja. Kenaikan harga energi dan bahan baku impor mendorong biaya produksi meningkat, sementara melemahnya daya beli masyarakat mempersempit ruang gerak pelaku usaha.
Sejumlah sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan manufaktur dinilai menjadi yang paling rentan. Kombinasi tekanan biaya produksi dan gangguan rantai pasok global meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai wilayah.
Dalam struktur ekonomi nasional, UMKM dan tenaga kerja memiliki keterkaitan erat. Ketika UMKM tertekan, kemampuan menyerap tenaga kerja ikut terancam. Sebaliknya, penurunan daya beli buruh berimbas langsung terhadap keberlangsungan usaha kecil.
Efek domino dari gejolak global yang disebut terjadi saat ini antara lain kenaikan harga energi dan biaya logistik, lonjakan harga bahan baku impor, serta penurunan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut dinilai menuntut langkah strategis dan respons cepat dari pemerintah agar keseimbangan ekonomi tetap terjaga.
Kepala Badan Ekonomi Kreatif & Pembinaan UMKM DPD Bintang Muda Indonesia Partai Demokrat DKI Jakarta, Dimas H. Pribadi, menilai momentum Hari Buruh 2026 perlu dimanfaatkan sebagai refleksi bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
“Buruh dan UMKM adalah dua pilar utama ekonomi Indonesia. Di tengah tekanan global, negara harus hadir melalui kebijakan konkret yang melindungi pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan UMKM,” ujarnya.
Ia mendorong pemerintah segera mengambil langkah strategis, seperti pemberian insentif bagi UMKM, stabilisasi harga bahan baku, serta penguatan program perlindungan tenaga kerja untuk mencegah gelombang PHK.
“Ketahanan ekonomi hanya bisa tercapai jika UMKM tetap tumbuh dan buruh memperoleh perlindungan serta kesejahteraan yang layak,” tambahnya.
Hari Buruh 2026 juga dinilai sebagai momentum memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pekerja. Sejumlah langkah yang dianggap krusial mencakup stabilisasi harga energi dan bahan baku, insentif fiskal serta akses pembiayaan bagi UMKM, perlindungan tenaga kerja dan pencegahan PHK massal, serta penguatan rantai pasok domestik.
Di tengah tantangan global yang disebut semakin kompleks, keseimbangan antara keberlangsungan usaha dan kesejahteraan pekerja dipandang sebagai faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Hari Buruh pun dinilai tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi juga momentum memperkuat komitmen bersama membangun ekonomi yang inklusif, dengan UMKM terus berkembang dan pekerja mendapatkan perlindungan yang layak.