Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka kanal dialog langsung dengan kalangan pengusaha Amerika Serikat untuk membahas berbagai persoalan teknis secara terukur bersama Kementerian Keuangan. Langkah ini disampaikan saat ia menghadiri forum Joint Roundtable di Washington D.C., yang digelar oleh US-ASEAN Business Council dan US Chamber of Commerce.
Purbaya menyebut forum tersebut sebagai ruang strategis untuk mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat, sekaligus membuka peluang investasi serta kolaborasi sektor swasta AS di Indonesia. Dalam pertemuan itu, hadir perwakilan perusahaan-perusahaan Amerika dari berbagai sektor, mulai dari keuangan, teknologi, energi, hingga kesehatan.
Di hadapan peserta, Purbaya memaparkan daya tahan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang bergejolak. Ia menjelaskan arah kebijakan fiskal pemerintah dalam merespons dinamika geopolitik yang dinilai semakin tidak terprediksi.
Pemerintah, menurutnya, berkomitmen memperdalam pasar keuangan, mendorong digitalisasi sistem pembayaran, serta memperkuat ketahanan finansial. Ia menegaskan stabilitas ekonomi tetap menjadi fokus utama, namun transformasi struktural menuju negara berpendapatan tinggi juga harus berjalan bersamaan.
“Reformasi yang konsisten, pengelolaan fiskal yang prudent, serta penguatan investasi menjadi kunci,” kata Purbaya dalam keterangan resmi.
Pernyataan serupa disampaikan Purbaya dalam forum G20 1st Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting. Ia menekankan reformasi regulasi dan penguatan tata kelola pemerintahan sebagai fondasi jangka panjang, terutama dalam menghadapi risiko global, termasuk krisis energi yang dipicu konflik internasional.
Menurutnya, ketahanan Indonesia tidak bertumpu pada langkah darurat semata, melainkan pada reformasi struktural yang telah dijalankan sebelum krisis terjadi. Ia juga menyoroti konflik berkepanjangan di Timur Tengah sebagai pengingat pentingnya efisiensi proses dan perizinan untuk menjaga ketahanan energi.