WASHINGTON DC – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh di kisaran 5,4 hingga 6 persen pada 2026, meski dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank Spring Meeting) di Washington DC, Amerika Serikat.
Menurut Purbaya, optimisme tersebut didukung oleh fundamental ekonomi nasional yang dinilai kuat dan stabil. Ia menyebut konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, inflasi yang terkendali, serta kebijakan fiskal yang tetap disiplin menjadi faktor penopang.
“Ketika banyak negara mengalami perlambatan ekonomi, Indonesia tetap tumbuh 5,11 persen pada 2025. Ini menunjukkan ketahanan ekonomi domestik kita,” ujar Purbaya dalam pertemuan IMF, Senin (20/4/2026).
Ia juga menyoroti kinerja neraca perdagangan yang mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026. Capaian itu memperpanjang tren surplus Indonesia selama 70 bulan berturut-turut.
Purbaya menambahkan, stabilitas ekonomi turut ditopang oleh defisit fiskal yang terkendali, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang rendah, serta kebijakan hilirisasi yang terus didorong pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah disebut tetap mewaspadai dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi dunia. Untuk meredam dampak guncangan global, pemerintah menyiapkan bantalan fiskal serta menjaga stabilitas subsidi energi guna melindungi daya beli masyarakat.
Dalam jangka panjang, strategi pemerintah, kata Purbaya, tetap diarahkan pada efisiensi belanja negara dan percepatan transformasi struktural ekonomi menuju negara berpendapatan tinggi. Pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat daya saing nasional di tengah ketidakpastian global.