Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan kebudayaan kini bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan strategis untuk meredam konflik dunia di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Minggu (19/4/2026).
Peringatan berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah duta besar dari negara sahabat, di antaranya Mesir, Sudan, Irak, dan Afghanistan, serta perwakilan negara-negara Asia Tenggara. Kehadiran para diplomat disebut menjadi simbol komitmen Indonesia menjaga semangat Bandung Spirit di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu.
Fadli menyoroti tema peringatan tahun ini, Bandung Spirit, Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia, sebagai respons atas kondisi dunia yang menurutnya mengalami krisis kepercayaan antarbangsa. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai trust erosion yang berpotensi memicu konflik berkepanjangan.
Menurut Fadli, perjuangan bangsa-bangsa saat ini tidak lagi sebatas kemerdekaan politik, tetapi juga mencakup pemulihan martabat budaya dan penguatan solidaritas global. Dalam konteks itu, budaya dinilai dapat menjadi alat penting untuk membangun kembali hubungan antarnegara.
Ia menyinggung tragedi kemanusiaan di Gaza sebagai contoh runtuhnya peradaban modern. Fadli menyebut korban jiwa telah mencapai lebih dari 72.000 orang dan menilai situasi tersebut tidak hanya mencerminkan krisis kemanusiaan, tetapi juga penghancuran identitas budaya melalui rusaknya situs-situs bersejarah.
“Perlindungan terhadap warisan budaya kini harus menjadi bagian integral dalam upaya menjaga perdamaian dunia. Tanpa perlindungan, sebuah bangsa berisiko kehilangan jati dirinya di tengah konflik,” ujar Fadli.
Fadli juga mengingatkan bahwa kolonialisme pada masa lalu tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi turut menciptakan dominasi budaya atau cultural hegemony yang jejaknya masih terasa dalam relasi global hingga kini. Karena itu, ia menegaskan Asia dan Afrika harus kembali menjadi subjek utama dalam menentukan arah peradaban dunia, bukan sekadar objek yang mengikuti arus kekuatan global.
Untuk menguatkan argumennya, Fadli mengungkap temuan ilmiah terkait lukisan purba di Muna, Sulawesi Tenggara, yang disebut berusia sekitar 67.800 tahun. Temuan tersebut, menurutnya, menunjukkan Indonesia memiliki akar peradaban yang sangat tua dan kuat.
“Kekayaan budaya dapat menjadi modal besar dalam diplomasi internasional. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk memainkan peran sebagai jembatan antarperadaban,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Fadli menegaskan Indonesia tetap konsisten pada prinsip politik luar negeri bebas aktif di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. Indonesia, kata dia, memilih tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu, namun tetap aktif membangun kerja sama global berdasarkan prinsip Piagam PBB.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan ketahanan nasional sebagai fondasi diplomasi global. Pemerintah saat ini, menurutnya, berfokus pada program prioritas seperti ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan, serta program Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat.
Fadli mengutip Pasal 32 UUD 1945 sebagai dasar konstitusional untuk memajukan kebudayaan nasional. Di era globalisasi tanpa batas, ia menilai budaya perlu menjadi benteng utama untuk menjaga identitas bangsa. Ia pun menegaskan komitmen pemerintah menjadikan diplomasi budaya sebagai instrumen dalam membangun hubungan internasional.
“Perdamaian dunia hanya bisa tercapai jika setiap bangsa mampu melindungi dan menghargai budayanya,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memaparkan langkah strategis Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk memperkuat posisi kawasan Asia Afrika sebagai warisan dunia. Ia menyebut sejak Agustus 2025, Pemkot Bandung telah mengajukan proses pendaftaran kawasan Jalan Asia Afrika hingga Otista ke UNESCO.
Farhan menjelaskan proses tersebut membutuhkan kajian akademis yang mendalam serta dukungan berbagai pihak, termasuk penataan kawasan dan revitalisasi bangunan bersejarah. Ia menargetkan dalam empat tahun ke depan kawasan itu dapat masuk dalam daftar kandidat warisan dunia.
Selain upaya tersebut, Pemkot Bandung juga berencana menggelar rangkaian kegiatan pada 24 April hingga 12 Juli 2026, termasuk pawai dan karnaval budaya. Langkah itu dilakukan untuk memastikan kawasan Asia Afrika tetap hidup sebagai pusat aktivitas budaya dan diplomasi.