PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 berada di level 5 persen. Proyeksi ini turun tipis dari perkiraan sebelumnya, seiring meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan perlambatan ekonomi global berpotensi terjadi sebagaimana proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, ia menilai dampaknya terhadap Indonesia relatif terbatas.
“Kalau Indonesia, relatif tidak terlalu signifikan, dari 5,1 persen ke 5 persen. Ini sesuai dengan outook kita sebelumnya, untuk turun di 5 persen sepanjang tahun 2026 ini,” kata Rully dalam kegiatan “Media Day” yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa (21/6/2026).
Rully menambahkan, ruang pelonggaran suku bunga cenderung terbatas di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga minyak. Menurut dia, pada kuartal II-2026 dinamika suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar.
Konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan global, disebut turut mendorong tekanan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, Rully menilai peluang investasi di Indonesia tetap terbuka karena fundamental domestik masih relatif terjaga.
“Volatilitas merupakan bagian dari dinamika global, namun dengan fundamental domestik yang masih relatif terjaga, peluang investasi di pasar Indonesia masih terbuka,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai 5,4 hingga 6 persen. Pernyataan itu disampaikan dalam Pertemuan Musim Semi IMF dan Grup Bank Dunia (IMF-World Bank Spring Meeting).
Menkeu menilai, di tengah perlambatan yang dialami banyak negara, perekonomian Indonesia tetap tangguh dengan pertumbuhan 5,11 persen pada 2025. Ia menyebut pertumbuhan yang stabil menunjukkan kondisi ekonomi domestik yang sehat dan mampu merespons tekanan dari luar.
Optimisme pemerintah didukung sejumlah indikator, antara lain konsumsi rumah tangga yang kuat, surplus neraca perdagangan yang masih berlanjut, pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, defisit fiskal yang terkelola, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang rendah, serta kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan.