Jakarta—Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan terus memperkuat perannya di tingkat internasional untuk mendorong solidaritas global bagi Palestina. Upaya itu salah satunya ditunjukkan melalui partisipasi Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, dalam sejumlah forum internasional yang membahas isu kemanusiaan dan perdamaian dunia.
Sudarnoto menilai diperlukan langkah strategis global untuk merespons situasi kemanusiaan yang berlangsung di Palestina. Ia mendorong adanya blokade dan embargo terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas konflik, termasuk Israel dan Amerika.
“Perlu ada seruan bersama kepada seluruh negara dan masyarakat global untuk melakukan embargo dan boikot terhadap Israel dan Amerika, karena keduanya memiliki tanggung jawab besar atas berbagai kerusakan yang terjadi, tidak hanya di Palestina tetapi juga di kawasan lain seperti Iran dan Lebanon,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, eskalasi konflik yang meluas telah memicu krisis global yang serius. Karena itu, ia menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat dan organisasi sipil di setiap negara untuk membangun tekanan moral dan politik.
Di Indonesia, ia menyebut MUI bersama elemen masyarakat sipil diharapkan terus memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah agar komitmen pembelaan terhadap Palestina tetap konsisten. “Civil society masing-masing negara di dunia, kalau di Indonesia itu termasuk MUI, harus terus melakukan engagement, melakukan dialog, dan berkoordinasi dengan pihak pemerintah untuk secara bersama-sama memperkuat komitmen pembelaan terhadap Palestina,” katanya.
Sudarnoto juga menyinggung mandat konstitusional Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yakni menolak segala bentuk penjajahan di atas muka bumi. Ia menilai, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia diharapkan menjadi aktor penting dalam upaya tersebut.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya mengikuti Global Sumud Parliamentary Congress di Brussel pada 22 April. Dalam kegiatan itu, para peserta dari berbagai negara menggelar aksi long march dari lokasi kongres menuju Gedung Parlemen Belgia. Aksi tersebut diwarnai seruan solidaritas untuk Palestina, termasuk tuntutan penegakan hukum terhadap Israel dan Amerika serta ajakan boikot.
Sudarnoto menilai partisipasi masyarakat sipil, khususnya dari negara-negara Eropa, menunjukkan solidaritas global yang kuat dan dapat menjadi inspirasi. “Hal tersebut dapat menjadi contoh sekaligus sumber inspirasi bagi Indonesia. Gerakan ini bersifat global dan tidak terbatas pada latar belakang agama tertentu,” ujarnya.
Selain menghadiri kongres di Brussel, Sudarnoto juga menjadi narasumber dalam diskusi di Belanda bersama diaspora dan pelajar Indonesia. Diskusi itu membahas peran strategis Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina, termasuk langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mendorong kemerdekaan dan mengakhiri penjajahan.
Ia berharap rangkaian upaya tersebut dapat memperkuat kesadaran kolektif dan mendorong peran aktif masyarakat Indonesia dalam dukungan kemanusiaan di tingkat global. “Semoga apa yang kami lakukan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mewujudkan perdamaian dunia,” kata Sudarnoto.