BERITA TERKINI
Muslimat NU Serukan Diplomasi Nurani untuk Perdamaian Dunia lewat Deklarasi Moral ke PBB

Muslimat NU Serukan Diplomasi Nurani untuk Perdamaian Dunia lewat Deklarasi Moral ke PBB

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menyuarakan pendekatan yang menekankan kemanusiaan sebagai dasar diplomasi. Pesan itu mengemuka dari panggung organisasi perempuan Muslimat NU, yang disebut berupaya membawa nilai empati dan keberanian moral melampaui batas-batas negara.

Momen tersebut ditandai ketika Khofifah Indar Parawansa bersama Arifah Choiri Fauzi menyaksikan deklarasi Muslimat NU Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Deklarasi itu memuat sembilan seruan moral yang ditujukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang diposisikan sebagai ajakan untuk menempatkan martabat manusia sebagai prioritas dalam merespons konflik.

Sembilan imbauan tersebut digambarkan sebagai seruan yang mencakup penghentian perang, perlindungan warga sipil, jaminan akses kemanusiaan, serta pemulihan martabat korban konflik. Dalam narasi yang disampaikan, seruan itu dimaknai bukan sekadar dokumen, melainkan manifestasi nurani kolektif yang menawarkan alternatif terhadap pendekatan berbasis kekuatan.

Muslimat NU juga menyatakan langkah untuk menyurati Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Langkah ini dipandang sebagai penegasan bahwa dorongan moral dapat lahir dari gerakan akar rumput, termasuk dari ruang-ruang komunitas seperti majelis taklim dan forum pengajian, serta dapat berbicara di tingkat global melalui bahasa universal kemanusiaan.

Di tingkat lokal, gerakan ini disebut tidak berhenti pada wacana. Salah satu wujud yang disorot adalah pengukuhan paralegal Muslimat NU di berbagai daerah. Peran paralegal ini digambarkan sebagai upaya menghadirkan akses keadilan yang lebih dekat dengan masyarakat, sekaligus membantu menjembatani persoalan dan konflik di tingkat komunitas.

Dalam deklarasi tersebut, peran kepemimpinan perempuan ditekankan sebagai bagian dari transformasi sosial yang lebih luas—menghubungkan kearifan lokal dengan aspirasi global. Dari Semarang hingga Yogyakarta, pesan yang dibawa menempatkan empati dan keteladanan sebagai fondasi untuk mendorong perdamaian yang dinilai lebih bermartabat.

Melalui rangkaian seruan itu, Muslimat NU menyampaikan pandangan bahwa perdamaian tidak semata agenda politik yang lahir dari perundingan elite, melainkan juga dapat tumbuh dari doa, empati, dan keberanian moral yang bekerja dalam keseharian. Deklarasi tersebut pada akhirnya diposisikan sebagai ajakan untuk memilih merawat kemanusiaan sebagai arah masa depan bersama.