Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan telah berkomunikasi langsung dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim untuk membahas perkembangan situasi di Timur Tengah. Dalam percakapan tersebut, kedua pemimpin menegaskan kesamaan pandangan mengenai pentingnya mempertahankan jalur diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik yang berlangsung.
Wong mengatakan pembicaraan berlangsung pada Senin sore dan berfokus pada perkembangan terbaru di kawasan tersebut. Ia menilai, di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, hubungan antarnegara bertetangga perlu semakin solid melalui koordinasi yang erat dan saling dukung.
“Kami sepakat bahwa diplomasi yang berkelanjutan sangat penting untuk mencapai penyelesaian krisis yang tahan lama,” ujar Wong. Selain isu geopolitik, diskusi juga mencakup upaya memperkuat ketahanan rantai pasok antara Singapura dan Malaysia, mengingat dampak konflik global terhadap stabilitas ekonomi kawasan. “Kami juga membahas bagaimana Singapura dan Malaysia dapat bekerja sama lebih erat untuk memperkuat ketahanan rantai pasok,” tambahnya.
Dari pihak Malaysia, Anwar menyampaikan bahwa kedua negara menyambut positif adanya gencatan senjata sementara, sembari menekankan perlunya solusi jangka panjang untuk mengakhiri konflik. Ia mengatakan Malaysia mendukung upaya diplomasi yang sedang berjalan, termasuk peran Pakistan dalam memfasilitasi dialog, serta menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Anwar juga menyoroti fokus Malaysia dalam memperkuat ketahanan sistem energi nasional, termasuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan. Menurutnya, kolaborasi kawasan turut diperkuat melalui inisiatif ASEAN Power Grid. “Kami akan terus memprioritaskan kebutuhan domestik dan memastikan Malaysia serta kawasan tetap tangguh di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.
Konflik di Timur Tengah disebut bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan menargetkan sejumlah lokasi di Israel dan wilayah Teluk. Situasi turut meluas setelah Lebanon ikut terseret menyusul serangan Hizbullah—kelompok yang didukung Iran—terhadap Israel.
Menjelang batas waktu gencatan senjata, Amerika Serikat dan Iran menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi. Upaya diplomasi disebut belum menemui kepastian, termasuk setelah AS menyita kapal kargo Iran yang diduga mencoba menembus blokade.
Pemerintah AS juga mengumumkan Wakil Presiden JD Vance akan kembali ke Islamabad untuk melanjutkan perundingan tahap kedua, meski Iran belum memastikan keikutsertaannya. Di tengah ketegangan, Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menindak kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Jalur ini dinilai vital bagi distribusi minyak global. Presiden AS Donald Trump turut menuduh Iran mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.