Presiden RI Prabowo Subianto menerima Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, untuk membahas ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pertemuan itu membahas perkembangan ekonomi dalam negeri serta langkah strategis pemerintah untuk menjaga stabilitas dan mempertahankan momentum pertumbuhan.
Menurut Teddy, aktivitas ekonomi nasional dinilai masih terjaga. Meski demikian, pemerintah tetap menekankan perlunya kewaspadaan dalam menghadapi dinamika global dan potensi dampaknya terhadap perekonomian domestik.
Ia mengatakan pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk merespons dampak konflik global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi. Dalam pertemuan tersebut, Luhut juga memaparkan sejumlah skenario kebijakan yang disiapkan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat serta memastikan stabilitas fiskal tetap terjaga.
“Ketua Dewan Ekonomi Nasional menyampaikan sejumlah skenario kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat serta memastikan APBN tetap terkendali, termasuk melalui penguatan digitalisasi pemerintahan (govtech),” ujar Teddy.
Salah satu langkah konkret yang tengah dilakukan, lanjut Teddy, adalah uji coba digitalisasi bantuan sosial (bansos) di Banyuwangi. Program ini dirancang untuk meningkatkan transparansi sekaligus memastikan penyaluran bantuan lebih tepat sasaran sebelum diperluas ke daerah lain.
“Digitalisasi bantuan sosial saat ini tengah diuji coba di Banyuwangi dan akan diperluas ke 42 kabupaten/kota. Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi dan ketepatan sasaran penyaluran bansos,” kata Teddy.
Selain fokus pada stabilitas domestik, pemerintah juga disebut terus memanfaatkan peluang di tengah dinamika global, terutama untuk menarik arus investasi dari kawasan Timur Tengah. Upaya itu dilakukan melalui percepatan pembentukan Indonesia Financial Center yang diharapkan dapat memperkuat daya tarik investasi nasional.
“Seiring dinamika global, pemerintah juga melihat peluang untuk menarik arus modal, terutama dari Timur Tengah, melalui percepatan pembentukan Indonesia Financial Center guna memperkuat daya tarik investasi nasional,” pungkas Teddy.