Di tengah dinamika geopolitik global yang dinilai berpotensi memicu krisis pangan, isu kemandirian nasional kembali mengemuka sebagai kebutuhan mendesak. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, termasuk pupuk dan bahan bakunya.
Menjawab tantangan tersebut, inovasi pupuk hayati cair bernama Pureplant diluncurkan dengan klaim seluruh bahan bakunya berasal dari tumbuhan asli Indonesia. Produk ini diharapkan dapat menjadi substitusi pupuk impor sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian nasional.
Selain sebagai alternatif pupuk impor, pupuk hayati juga disebut menawarkan solusi terhadap kerusakan tanah pertanian, meningkatkan produktivitas, serta menekan biaya produksi petani.
Pupuk organik Pureplant merupakan hasil kolaborasi antara PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168) dan PT Intani Bumi Lestari (IBL). Penandatanganan kerja sama dilakukan di Jakarta pada Rabu, 29 April 2026, oleh Direktur Utama PT IMP 168 Pamrihadi dan Direktur Utama PT IBL Mira Rachmiati, serta disaksikan Ketua Umum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) Guntur Subagja Mahardika.
Direktur Utama PT IMP 168 Pamrihadi menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung program swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah melalui penguatan sektor input pertanian, khususnya pupuk hayati.
“Kami mendukung program swasembada pangan melalui penyediaan pupuk hayati sebagai bagian penting dalam ekosistem pertanian nasional,” ujar Pamrihadi.
Ia juga menjelaskan PT IMP 168 telah memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam pengembangan industri pupuk hayati terintegrasi. Sejumlah produk yang telah dihasilkan antara lain Extragen, NatureGen, dan Azosplant, yang disebut telah digunakan secara luas di dalam negeri maupun pasar ekspor.