BERITA TERKINI
Raja Charles III Berpidato di Kongres AS, Singgung NATO, Ukraina, dan Iklim dalam Kunjungan Kenegaraan

Raja Charles III Berpidato di Kongres AS, Singgung NATO, Ukraina, dan Iklim dalam Kunjungan Kenegaraan

Raja Charles III dan Ratu Camilla melakukan kunjungan kenegaraan resmi ke Amerika Serikat untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan negara itu. Dalam rangkaian agenda tersebut, jamuan makan malam kenegaraan digelar di Gedung Putih, beberapa jam setelah Raja Charles menyampaikan pidato di hadapan Kongres AS.

Dalam jamuan itu, Raja Charles dan Presiden Donald Trump sama-sama mengangkat gelas untuk bersulang. Pada satu momen, Raja melontarkan candaan yang memancing tawa hadirin. Ia menanggapi pernyataan Trump yang sebelumnya mengatakan bahwa tanpa Amerika Serikat, negara-negara Eropa akan berbicara bahasa Jerman. “Berani saya katakan bahwa jika bukan karena kami, Anda akan berbicara bahasa Prancis,” kata Raja, disambut tawa riuh.

Pada malam yang sama, Trump memuji pidato Raja di Kongres sebagai “hebat” dan mengatakan pidato itu membuatnya “sangat iri”. Di Kongres, Charles mendapat sambutan hangat lintas kubu politik. Pidatonya memicu sedikitnya 12 kali tepuk tangan meriah sambil berdiri, menandakan penerimaan positif terhadap pesan-pesan yang disampaikan.

Pidato tersebut dinilai memuat sejumlah poin politik penting yang disampaikan dengan bahasa halus dan berwibawa. Raja merujuk pada hubungan khusus Inggris–Amerika Serikat, sekaligus menyentuh isu NATO, Ukraina, pentingnya demokrasi Barat, serta pesan tersirat mengenai perubahan iklim—isu yang sebelumnya pernah disebut Trump sebagai “hoax”.

Sejumlah media internasional juga menyoroti isi pidato itu. The New York Times menilai terdapat “bantahan halus” terhadap Trump, sementara Le Monde menyebut dibutuhkan seorang Raja Inggris untuk mengingatkan politisi AS tentang “kebiasaan pidato yang canggih”.

Dalam pidato di Kongres, Raja Charles tampil dengan jaket jas bergaris biru tua, kemeja putih, dan dasi bermotif biru. Di belakangnya, Ratu Camilla mengenakan atasan putih dengan jahitan hitam di sekitar kerah. Meski simbol dan bahasa kerajaan kerap memerlukan penafsiran, Raja berupaya menjaga keseimbangan antara ketegasan pada isu yang dianggap penting dan kehati-hatian agar tidak menyinggung tuan rumah.

Dukungan untuk NATO dan pesan anti-terorisme

Salah satu penekanan utama Raja adalah pembelaan terhadap NATO, di tengah situasi ketika Trump secara terbuka mengkritik negara-negara anggota aliansi tersebut karena dinilai enggan memainkan peran lebih besar dalam perang di Iran. Mengutip mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, Raja berbicara tentang “kemitraan” Atlantik yang menurutnya “didasarkan pada dua pilar: Eropa dan Amerika”.

Raja juga mengingat kembali respons setelah serangan 11 September 2001, ketika sekutu NATO dimobilisasi untuk membela Amerika Serikat. “Dalam menghadapi teror, kita menjawab panggilan itu bersama-sama,” ujarnya. Pesan ini dipandang sebagai pengingat mengenai manfaat aliansi tersebut, terutama setelah Trump bulan lalu menyebut NATO sebagai “jalan satu arah” dan menulis bahwa AS akan melindungi sekutunya, tetapi sekutu tidak melakukan apa pun untuk AS.

Raja kembali menegaskan dukungannya terhadap NATO saat pidato di jamuan makan malam kenegaraan. Penegasan itu disebut sebagai pesan yang diharapkan Downing Street melekat dalam benak presiden AS.

Menjawab kritik soal Angkatan Laut Inggris

Raja Charles juga menyisipkan pernyataan yang berkaitan dengan Angkatan Laut Kerajaan. Di masa lalu, Trump pernah mengkritik kemampuan angkatan laut Inggris, menyebut kapal-kapalnya sebagai “mainan” dan mengatakan kapal induk Inggris “tidak berfungsi”. Dalam pidatonya, Raja menyatakan ia pernah mengabdi dengan “kebanggaan yang luar biasa” di Angkatan Laut Kerajaan, mengikuti “jejak angkatan laut” ayahnya, mendiang Adipati Edinburgh.

Selain sebagai respons halus, bagian ini juga dibaca sebagai penegasan pentingnya hubungan keamanan dan pertahanan kedua negara, termasuk kerja sama intelijen. Dalam rangkaian kunjungan, Raja juga memberikan hadiah kepada Trump berupa lonceng dari kapal selam Perang Dunia II yang memiliki nama sama: HMS Trump. Lonceng tersebut diukir dengan tulisan “TRUMP 1944”.

Demokrasi dan mekanisme checks and balances

Raja Charles turut menyinggung prinsip demokrasi dan pembatasan kekuasaan. Tanpa menyebut langsung pemerintahan Trump, ia mengutip sejarah Inggris melalui Magna Carta dan mencatat bahwa dokumen itu telah dikutip dalam lebih dari 160 kasus Mahkamah Agung AS sejak 1789, “terutama sebagai dasar prinsip bahwa kekuasaan eksekutif tunduk pada pengawasan dan keseimbangan”.

Bagian ini disambut tepuk tangan meriah yang disebut dimulai dari sisi Demokrat sebelum menyebar ke seluruh ruangan. Para kritikus Trump kerap menuduh presiden berupaya memperluas kekuasaan eksekutif Gedung Putih, namun Raja tidak menyampaikan kritik secara langsung.

Perubahan iklim dan kaitannya dengan kemakmuran

Menjelang akhir pidato, Raja menyinggung lingkungan dengan merujuk “keajaiban alam” Amerika Serikat serta tanggung jawab bersama untuk melindungi “aset kita yang paling berharga dan tak tergantikan”. Ia kemudian menyampaikan peringatan lebih tegas tentang dampak jika perlindungan itu diabaikan.

“Kita mengabaikan fakta bahwa sistem alam ini, dengan kata lain, ekonomi alam itu sendiri, menyediakan fondasi bagi kemakmuran dan keamanan nasional kita,” ujar Raja. Pernyataan ini muncul dalam konteks sikap Trump yang menyebut perubahan iklim sebagai “hoax” dan “penipuan”, serta keputusan menarik diri dari Perjanjian Paris.

Pesan soal kemitraan dan dukungan untuk Ukraina

Raja Charles juga menggarisbawahi pentingnya mempertahankan kemitraan Inggris–AS. “Seperti yang dikatakan perdana menteri saya bulan lalu, kemitraan kita sangat penting. Kita tidak boleh mengabaikan semua hal yang telah menopang kita selama 80 tahun terakhir. Sebaliknya, kita harus membangunnya,” katanya.

Dalam isu Ukraina, Raja bersikap tegas. Ia mengatakan kekuatan kemitraan kedua negara telah digunakan untuk menghadapi musuh bersama dan mengamankan dunia, dan kini diperlukan untuk melindungi Ukraina di tengah perang melawan Rusia “untuk mengamankan perdamaian yang benar-benar adil dan abadi”. Ia menekankan, “Tantangan yang kita hadapi terlalu besar untuk ditanggung oleh satu negara saja.”

Secara keseluruhan, pidato dan rangkaian pernyataan Raja Charles menggambarkan upaya diplomasi yang cermat: menyampaikan sejumlah pesan sensitif—dari NATO hingga iklim dan Ukraina—dengan gaya yang tetap menjaga suasana ramah. Dalam jamuan di Gedung Putih, candaan yang dilontarkan Raja bahkan membuat Trump tersenyum, menutup hari yang diwarnai pidato bersejarah dan respons hangat dari Kongres.

Di sisi lain, mantan Presiden Bill Clinton turut membagikan perspektifnya mengenai pidato Raja Charles di pertemuan gabungan Kongres pada 28 April 2026. Clinton menyoroti momen-momen penting, mulai dari pembelaan terhadap NATO dan Ukraina hingga kritik halus mengenai perubahan iklim serta mekanisme checks and balances, termasuk reaksi Trump dan kontroversi yang disebut sebagai “DUA RAJA”.