Rektor Perbanas Institute Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec menyoroti kondisi ekonomi global yang tengah berada pada tingkat ketidakpastian tinggi. Meski demikian, ia menilai situasi tersebut tetap membuka peluang, terutama bagi sektor ekspor dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Dalam keterangannya di Jakarta Timur, Jumat (1/5), Hermanto mengatakan ketidakpastian global membuat pelaku ekonomi dan sektor perbankan cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Menurut dia, sikap tersebut wajar mengingat perbankan menjalankan prinsip kehati-hatian untuk menjaga dana masyarakat.
“Pelaku ekonomi berhati-hati, perbankan juga pasti lebih berhati-hati karena mengelola uang tabungan masyarakat yang tidak boleh hilang. Namun, di sela-sela ketidakpastian global ini, pasti ada peluang yang bisa kita ambil,” ujar Hermanto.
Ia menyebut salah satu peluang dapat muncul dari momentum pelemahan mata uang, yang dinilainya semestinya dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan volume ekspor. Hermanto menjelaskan, ekspor yang meningkat akan menambah likuiditas devisa di dalam negeri, yang pada akhirnya dapat memperkuat daya beli masyarakat dan UMKM.
“Manakala terjadi kelemahan mata uang, ekspor itu seharusnya meningkat. Kita harus mendukung ekspor, termasuk UMKM. Jika ekspor jalan, kita dapat dolar, pelaku usaha punya kemampuan belanja, dan pada akhirnya tabungan mereka di perbankan juga meningkat. Perputaran ekonomi inilah yang harus kita jaga,” katanya.
Selain itu, Hermanto mendorong kolaborasi antara korporasi besar dan UMKM terus diperkuat. Ia menilai, ketika daya beli UMKM kuat, produk-produk korporasi akan lebih terserap sehingga membentuk ekosistem ekonomi yang lebih tangguh di tengah tantangan global.