Hubungan bilateral Indonesia dan Mesir kembali menguat melalui pertemuan strategis yang digelar di Masjid Al Akbar Surabaya, Minggu (19/4/2026). Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama lintas sektor, terutama pendidikan dan perdagangan yang disebut masih dalam tahap pengembangan lanjutan.
Agenda tersebut dihadiri Wakil Duta Besar Mesir Dr. Amr Ahmad Mukhtar Abdul Hadi bersama jajaran ulama Al Azhar, yakni Rois Bi’tsah Syekh Ahmad Muhammad Mabruk dan Syekh Faraq Salim. Kehadiran mereka menandai bahwa pembahasan tidak hanya bersifat diplomasi formal, tetapi juga melibatkan pendekatan keilmuan dan keagamaan sebagai landasan kerja sama.
Diskusi yang berlangsung sejak pagi berfokus pada sejumlah agenda strategis. Salah satu poin yang dibahas adalah tindak lanjut penandatanganan protokol kerja sama dengan Gubernur Alexandria, Mesir. Protokol tersebut mencakup sektor perdagangan dan pendidikan, dan saat ini masih berada pada tahap finalisasi serta koordinasi lanjutan antar pihak terkait.
Pertemuan juga mengulas rencana kolaborasi antara sejumlah perguruan tinggi berbasis Nahdlatul Ulama (NU) dengan Al-Azhar University. Kerja sama ini diarahkan pada program combating terrorism, dengan menempatkan institusi pendidikan sebagai garda depan dalam membangun narasi moderasi serta menangkal penyebaran paham radikalisme melalui pendekatan akademik dan keagamaan yang terstruktur.
Kunjungan delegasi Mesir ke Surabaya turut didampingi tokoh pendidikan nasional Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim. Kehadirannya mencerminkan keterlibatan pesantren dalam diplomasi pendidikan internasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring global moderasi Islam berbasis pendidikan serta nilai keagamaan.
Secara umum, diskusi berlangsung terbuka dan konstruktif dengan pertukaran gagasan yang mengarah pada peluang implementasi kerja sama yang lebih nyata. Pertemuan ini juga menunjukkan keterlibatan pemerintah, institusi pendidikan, dan lembaga keagamaan dalam mendorong kolaborasi yang berorientasi pada hasil dan keberlanjutan.
Momentum di Masjid Al Akbar Surabaya tersebut menegaskan bahwa diplomasi modern tidak hanya berjalan melalui jalur antarnegara secara formal, tetapi juga melalui sinergi antarlembaga dan komunitas yang berperan langsung dalam pembangunan sumber daya manusia dan peradaban.