Samuel Sekuritas Indonesia menilai kondisi makroekonomi Indonesia pada pekan ketiga April 2026 menunjukkan keterkaitan yang kian erat antara volatilitas eksternal dan realitas struktural di dalam negeri. Jika pada pekan sebelumnya tekanan lebih dominan datang dari faktor luar, kali ini dinamika dinilai lebih kompleks karena guncangan global mulai merambat ke struktur ekonomi domestik.
Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal, menyebut eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memengaruhi pasar energi. Harga minyak disebut stabil pada level tinggi setelah lonjakan sebelumnya, yang dinilai memperkuat risiko inflasi dan menyulitkan pengelolaan fiskal, terutama karena Indonesia berkomitmen mempertahankan subsidi bahan bakar.
Di sisi lain, tekanan nilai tukar masih berlanjut dengan rupiah berada di kisaran Rp 17.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Fithra, kondisi ini mencerminkan kerentanan terhadap siklus likuiditas global. Dari dalam negeri, munculnya fenomena “jobless growth” turut menyoroti tantangan struktural, ketika pertumbuhan ekonomi tidak lagi secara otomatis berujung pada peningkatan kesejahteraan yang merata.
Fithra menambahkan, respons kebijakan—mulai dari intervensi Bank Indonesia hingga sinyal fiskal—menggambarkan upaya terkoordinasi untuk menjaga stabilitas tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan. Secara umum, ia menilai Indonesia tetap resilien, namun sumber risiko mulai bergeser dari semata guncangan eksternal menjadi interaksi yang lebih rumit antara volatilitas global dan keterbatasan struktural domestik.
Ke depan, Fithra memandang trajektori makroekonomi Indonesia masih resilien, tetapi semakin bersifat kondisional. Dalam jangka pendek, permintaan domestik dan dukungan kebijakan diperkirakan tetap menjadi penopang pertumbuhan. Namun, ia menekankan tiga faktor eksternal yang akan sangat menentukan arah berikutnya, yakni harga energi global terutama volatilitas minyak, kebijakan moneter AS dan pergerakan yield global, serta stabilitas geopolitik di Timur Tengah.
Pada saat yang sama, isu struktural domestik seperti penyerapan tenaga kerja, kualitas investasi, dan kredibilitas institusi dinilai akan semakin membentuk kinerja jangka menengah. Fithra menilai Indonesia memasuki fase ketika keberlanjutan pertumbuhan lebih bergantung pada transformasi struktural dibandingkan sekadar momentum siklikal.
“Tantangannya bukan lagi hanya menjaga pertumbuhan di atas 5%, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut inklusif, tangguh, dan tidak rentan terhadap guncangan eksternal,” kata Fithra.