Krisis lingkungan, ketimpangan sosial, hingga tekanan hidup di kota-kota besar dinilai menjadi tanda bahwa sistem ekonomi global sedang menghadapi persoalan serius. Dalam situasi ini, gagasan ekonom Jerman E. F. Schumacher kembali dianggap relevan, terutama kritiknya terhadap ekonomi modern yang bertumpu pada skala besar.
Melalui buku Small Is Beautiful, Schumacher menyoroti kecenderungan birokrasi dan dunia usaha yang semakin membesar. Menurutnya, struktur yang serba besar berisiko mengikis kepedulian terhadap manusia sebagai individu, karena proses pengambilan keputusan dan orientasi kerja kerap lebih menekankan kontrol serta kekuasaan ketimbang kesejahteraan yang berkeadilan.
Schumacher menilai dominasi sistem besar dapat melahirkan cara pandang yang mengabaikan rasa, empati, dan dimensi kemanusiaan. Dalam kerangka seperti itu, manusia berpotensi diperlakukan sekadar sebagai alat produksi, sementara nilai-nilai yang tidak mudah diukur kerap tersisih.
Sebaliknya, ia memandang kehidupan dalam skala kecil memberi ruang bagi kebebasan, kreativitas, efisiensi, serta keberlanjutan. Dari situ, ia menempatkan keindahan ekonomi pada upaya menjadikan manusia sebagai pusat, bukan sekadar bagian dari mesin produksi.
Pandangan ini disebut sejalan dengan pendekatan Mahatma Gandhi yang membangun ekonomi dari desa. Penguatan kerajinan tangan dan produksi padat karya dipandang dapat menciptakan kemandirian sekaligus menjaga keseimbangan sosial, sembari menanamkan nilai hidup sederhana, hemat, dan berorientasi jangka panjang.
Dalam tulisan tersebut juga disampaikan bahwa perubahan sosial berskala besar berpotensi merusak moral masyarakat. Ketika masyarakat dipaksa masuk ke sistem industri modern secara cepat, ketergantungan pada kelompok elite dinilai sulit dihindari, sehingga ekonomi berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai alat pembebasan.
Transformasi sektor pertanian menjadi industri besar turut dikaitkan dengan percepatan urbanisasi. Desa disebut kehilangan perannya, sementara kota menghadapi kepadatan, kemacetan, serta krisis sosial yang berdampak pada penurunan kualitas hidup.
Schumacher juga menekankan bahwa orientasi keuntungan yang berlebihan membuat nilai-nilai penting terabaikan. Ia menggarisbawahi tiga hal mendasar yang kerap dilupakan, yakni “sehat, indah, dan lestari”. Ketiganya dinilai sebagai fondasi kehidupan yang tidak selalu dapat diukur dengan angka, tetapi sangat menentukan kualitas hidup manusia.
Menurut uraian tersebut, persoalan mendasar turut bersumber dari cara pandang ilmu ekonomi modern yang berusaha menjadi ilmu pasti seperti ilmu alam. Pendekatan ini dinilai menyamakan manusia dengan objek tanpa jiwa, sehingga mengabaikan dimensi spiritual. Ketika ruang spiritual kosong, disebutkan bahwa ruang itu dapat diisi oleh sikap seperti keserakahan dan kekikiran yang dibungkus dalam kalkulasi ekonomi.
Dalam konteks itu, pemikiran MT Zein yang ditulis dalam pengantar buku tersebut turut disorot. MT Zein menegaskan bahwa dunia membutuhkan ilmu ekonomi yang tidak hanya mengukur perilaku manusia, tetapi juga mampu mendidik dan meningkatkan kualitas pribadi masyarakat. Ilmu ekonomi, menurut pandangan ini, tidak seharusnya berhenti pada penghitungan dorongan-dorongan rendah, melainkan mengarahkan manusia pada nilai yang lebih tinggi.
Tulisan tersebut juga mengaitkan peluang penerapan ekonomi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan dengan penguatan implementasi ekonomi Pancasila. Sistem ekonomi yang diharapkan bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi menjaga keseimbangan kehidupan.
Pada akhirnya, harapan untuk mewujudkan negeri yang sehat, indah, dan lestari dinilai bukan sesuatu yang mustahil. Dengan mengembalikan ekonomi pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, cita-cita itu disebut dapat diwujudkan.