PARIS — Pengakuan UNESCO terhadap surat-surat R.A. Kartini yang masuk dalam Memory of the World Register 2025 dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat diplomasi intelektual. Momentum tersebut ditandai dengan penyelenggaraan acara bertajuk “Kartini Letters: A Spark in the Memory of the World” di Kantor Pusat UNESCO, Paris, Rabu (16/4/2026).
Acara ini diselenggarakan oleh Kantor Wakil Tetap Republik Indonesia (KWRI) untuk UNESCO bersama Delegasi Tetap Kerajaan Belanda untuk UNESCO. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100 delegasi dari berbagai negara.
Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, mengatakan pengakuan internasional terhadap surat-surat Kartini menunjukkan relevansi pemikiran Indonesia di tingkat global, terutama terkait pendidikan, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia.
“Ini bukan hanya pengakuan terhadap sejarah. Tetapi, juga penguatan posisi Indonesia dalam kontribusi intelektual di tingkat dunia,” kata Oemar.
Oemar menekankan gagasan Kartini mengenai pentingnya pendidikan sebagai fondasi emansipasi perempuan dinilai tetap kontekstual hingga saat ini, bahkan disebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Dalam forum yang sama, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk UNESCO, Monique Van Daalen, turut menyoroti pemikiran Kartini. Menurutnya, pandangan Kartini mencerminkan gagasan maju tentang peran perempuan dan akses pendidikan bagi anak perempuan, isu yang masih menjadi fokus UNESCO.
Kegiatan juga dirangkai dengan diskusi buku The Most Beautiful Letters from Kartini bersama editor dan penulisnya, Lara Nuberg dan Feba Sukmana. Diskusi tersebut membahas isi surat-surat Kartini secara lebih mendalam, termasuk kritik terhadap kolonialisme dan berbagai pembatasan terhadap perempuan.
Sejumlah peserta menilai pemikiran Kartini masih relevan dalam konteks perjuangan kesetaraan masa kini. Kartini juga disebut sebagai salah satu pelopor gagasan emansipasi perempuan di tingkat global.
Oemar menegaskan, melalui kegiatan ini Indonesia berupaya mengintegrasikan diplomasi budaya dan intelektual untuk memperkenalkan warisan nasional ke tingkat internasional.