Pada awal 1990-an, setelah Perang Dingin berakhir, ilmuwan politik Samuel Huntington memicu perdebatan lewat tesisnya dalam karya Clash of Civilizations. Ia berpendapat bahwa konflik global pasca-era pertarungan ideologi tidak lagi terutama ditentukan oleh kapitalisme versus komunisme, melainkan oleh benturan antarperadaban yang terbagi dalam blok-blok budaya besar dengan nilai dan kepentingan berbeda.
Selama bertahun-tahun, pandangan itu kerap dinilai terlalu deterministik. Globalisasi dipandang mengikis batas peradaban: internet menghubungkan orang lintas negara, perdagangan internasional menyatukan pasar, dan rantai pasok global menumbuhkan saling ketergantungan. Namun, tiga dekade kemudian, arah dunia dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan optimisme tersebut.
Dunia kini digambarkan semakin multipolar. Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya pusat kekuatan. Tiongkok tampil sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi yang menantang dominasi Barat, India menguat lewat faktor demografi dan digital, sementara Rusia tetap menjadi aktor geopolitik penting, terutama di sektor energi dan militer. Sejumlah kekuatan regional lain—dari Turki hingga Brasil—juga mulai memainkan peran lebih besar dalam dinamika global.
Dalam konteks itu, tesis Huntington dinilai kembali relevan, meski wujud benturannya tidak persis sama. Persaingan hari ini tidak semata-mata soal budaya, tetapi bercampur dengan rivalitas untuk mengukuhkan posisi di sektor teknologi, kontrol ekonomi, dan dominasi data. Meski demikian, identitas peradaban kerap menjadi latar narasi yang memperkuat konflik.
Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi salah satu contoh yang disorot. Di permukaan, perselisihan tampak berkisar pada tarif, subsidi industri, atau defisit perdagangan. Namun, jika ditarik lebih dalam, yang diperebutkan disebut berkaitan dengan superioritas teknologi global.
Persaingan itu terlihat dalam sektor semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), jaringan 5G, hingga komputasi kuantum. Amerika Serikat berupaya membatasi akses Tiongkok terhadap chip canggih dan teknologi produksi semikonduktor. Sebaliknya, Tiongkok mempercepat strategi kemandirian teknologi melalui investasi besar pada riset dan pengembangan serta manufaktur domestik.
Situasi ini memunculkan gejala fragmentasi teknologi. Ekosistem digital dunia perlahan dipandang terbagi ke dalam blok yang berbeda: di Barat berpusat pada Amerika Serikat dengan Silicon Valley, dan di Timur berpusat pada Tiongkok dengan Zhongguancun sebagai episentrum pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jika Huntington berbicara tentang benturan peradaban, maka dinamika saat ini digambarkan sebagai benturan sistem teknologi dan ekonomi. Dampaknya dinilai signifikan terhadap pembentukan ulang tatanan global. Selama tiga dekade terakhir, globalisasi berjalan karena integrasi rantai pasok internasional: produk dapat dirancang di California, diproduksi di Shenzhen, menggunakan komponen dari Korea Selatan dan Taiwan, lalu dijual ke berbagai negara. Namun model ini disebut mulai bergeser.
Ketegangan geopolitik mendorong negara dan perusahaan melakukan reorientasi atas ketergantungan pada rantai pasok global. Istilah seperti friend-shoring, near-shoring, dan strategic decoupling makin sering muncul. Pertimbangan efisiensi biaya tidak lagi menjadi satu-satunya faktor, karena risiko geopolitik ikut menentukan keputusan bisnis.
Akibatnya, ekonomi global diperkirakan tidak lagi bergerak menuju satu pasar yang sepenuhnya terintegrasi. Sebaliknya, dunia cenderung mengarah pada polarisasi ke dalam beberapa ekosistem ekonomi besar. Di saat yang sama, revolusi digital mempercepat perubahan ini secara paradoks: teknologi menghubungkan dunia secara instan, tetapi juga melahirkan bentuk kekuasaan baru—kekuasaan atas data, algoritma, dan infrastruktur digital.
Kombinasi multipolaritas geopolitik, kompetisi teknologi, dan fragmentasi digital menghadirkan tantangan bagi ekonomi global. Ketidakpastian meningkat, sehingga investasi jangka panjang menjadi lebih kompleks karena harus mempertimbangkan risiko politik, sanksi ekonomi, serta perubahan regulasi teknologi. Biaya ekonomi global juga berpotensi naik akibat berkurangnya efisiensi ketika rantai pasok terfragmentasi. Selain itu, ketimpangan teknologi antarnegara dinilai dapat melebar karena negara yang menguasai teknologi inti—seperti semikonduktor, AI, dan komputasi—memiliki keunggulan struktural dalam ekonomi masa depan.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, risikonya disebut lebih besar. Jika dunia benar-benar terpolarisasi ke dalam blok-blok teknologi, negara di luar pusat kekuatan berpotensi menjadi pasar dan pengguna teknologi, bukan produsen atau inovator. Dari titik ini muncul pertanyaan mengenai langkah mitigasi yang dapat ditempuh.
Dalam kerangka itu, ekonom Joseph Stiglitz melalui karyanya The Price of Inequality mengajukan beberapa gagasan. Pertama, diversifikasi ekonomi dan rantai pasok agar ketergantungan pada satu negara atau satu teknologi tidak menjadi sumber kerentanan. Kedua, investasi besar pada pendidikan dan teknologi, karena dalam ekonomi digital kapasitas inovasi manusia dinilai lebih menentukan dibanding sumber daya alam. Ketiga, penguatan strategi kedaulatan ekonomi yang terbatas—bukan autarki penuh—dengan kemampuan mengamankan sektor strategis seperti energi baru dan terbarukan, pangan, teknologi inti, serta infrastruktur digital. Keempat, mempererat kerja sama regional sebagai penyeimbang dalam dunia multipolar.
Pada akhirnya, dinamika global saat ini menunjukkan bahwa konflik tidak berdiri pada satu dimensi. Peradaban, teknologi, ekonomi, dan politik saling bertaut dalam jaringan yang kompleks. Globalisasi dinilai tidak sepenuhnya berakhir, tetapi berubah bentuk: bukan lagi integrasi tanpa batas, melainkan konektivitas yang semakin dipengaruhi strategi geopolitik.
Dalam lanskap tersebut, pertanyaan kunci ke depan bukan semata apakah dunia akan terhubung atau terpecah, melainkan siapa yang mengendalikan arsitektur konektivitas global. Dalam ekonomi abad ke-21, kendali atas teknologi dan data disebut dapat menjadi penentu utama kepemimpinan dan keunggulan di panggung dunia.