JAKARTA — Transformasi aset dunia nyata atau real world asset (RWA) melalui tokenisasi dinilai kian membuka peluang diversifikasi bagi investor. Sejalan dengan perkembangan tersebut, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) Bittime menyediakan akses ke berbagai aset berbasis RWA dalam satu aplikasi, termasuk melalui fitur IDR Swap tanpa biaya (zero fee) yang disebut dapat menurunkan hambatan biaya masuk bagi pengguna baru.
Dalam beberapa waktu terakhir, industri aset kripto disebut mengalami pergeseran dari instrumen yang cenderung spekulatif menuju aset yang memiliki nilai riil melalui tokenisasi RWA. Di Indonesia, pengakuan terhadap RWA sebagai kelas aset investasi juga menunjukkan perkembangan. Pada 2024, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membentuk divisi Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) untuk mengawasi pengembangan aset keuangan digital, dengan tokenisasi RWA dikategorikan sebagai Backed Digital Financial Assets.
Langkah tersebut diperkuat dengan peluncuran regulatory sandbox melalui POJK 3/2024, yang memungkinkan pelaku industri RWA beroperasi dalam kerangka hukum yang lebih jelas. Dengan meningkatnya perhatian regulator dan pelaku industri, RWA dipandang menjadi bagian dari agenda inovasi keuangan di Indonesia sekaligus membuka peluang perluasan inklusi investasi digital.
Di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis, RWA dinilai relevan sebagai alternatif diversifikasi, terutama ketika investor mencari instrumen yang lebih stabil. Keunggulan tokenisasi RWA juga disebut terletak pada kepemilikan fraksional, yang memungkinkan individu memiliki eksposur terhadap aset dunia nyata dengan nominal fleksibel. Model ini turut dikaitkan dengan peningkatan aksesibilitas dan likuiditas karena aset tokenisasi dapat diperdagangkan sepanjang waktu.
Bittime mencatat minat pasar terhadap aset berbasis RWA. Pada 30 April 2026, Bittime mencatat Tether (USDT), Tether Gold (XAUT), dan Silver (SLVON) berada di peringkat teratas aset yang diperdagangkan pada hari itu.
CEO Bittime Ryan Lymn mengatakan ketidakpastian geopolitik global cenderung mendorong investor beralih ke aset yang lebih stabil sebagai diversifikasi dan lindung nilai. Menurut dia, Bittime menyediakan akses ke berbagai aset global, termasuk USDT, XAUT, serta saham AS Magnificent 7, dan menghadirkan fitur IDR Swap 0 Fee untuk memudahkan konversi rupiah ke aset kripto seperti USDT, BTC, dan XAUT secara lebih efisien dari sisi biaya.
Ryan menambahkan, fitur tersebut ditujukan agar pengguna dapat mengonversi rupiah ke USDT dan aset lain tanpa biaya tambahan, sehingga pengguna dapat mulai berinvestasi dari Rp10.000.
Selain itu, Bittime juga menawarkan fitur staking bagi pengguna baru dengan imbal hasil hingga 10% APY. Namun, Ryan mengingatkan pentingnya memahami bahwa keputusan investasi sebaiknya tidak semata mengikuti tren, melainkan didasarkan pada pemahaman dan fundamental. Ia menekankan perlunya edukasi berkelanjutan terkait manajemen risiko dan analisis fundamental makroekonomi untuk membangun portofolio yang sehat dan berkelanjutan di era digital.
Di sisi lain, perlu dicatat bahwa aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga, potensi kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi, yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu, pengguna disarankan untuk melakukan riset dan berdiskusi dengan komunitas yang terpercaya sebelum mengambil keputusan.